Legislator Dorong Ruang Digital yang Aman bagi Anak
Anggota Komisi I DPR RI, Yudha Novanza Utama, menegaskan pentingnya menciptakan ekosistem digital yang melindungi anak-anak dari berbagai risiko di dunia
Legislator Dorong Ruang Digital yang Aman bagi Anak: Langkah Strategis Menuju Indonesia Emas 2045
Tajukpublik.com – Anggota Komisi I DPR RI, Yudha Novanza Utama, menegaskan pentingnya menciptakan ekosistem digital yang melindungi anak-anak dari berbagai risiko di dunia maya. Dalam perspektifnya, langkah ini bukan sekadar kebutuhan mendesak, melainkan investasi jangka panjang untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Politisi tersebut menyoroti bahwa perkembangan teknologi informasi harus berjalan beriringan dengan upaya mitigasi risiko yang dihadapi generasi muda di platform digital.
Anak-anak hari ini adalah pemimpin Indonesia di masa depan. Karena itu, ruang digital harus menjadi ruang belajar, ruang kreativitas, ruang inovasi, ruang kolaborasi, dan ruang yang aman serta sehat untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
Pernyataan tersebut disampaikan Yudha dalam acara Webinar Literasi Digital yang mengangkat tema “Ruang Digital Anak Aman dan Sehat: Tantangan dan Solusi Bersama”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berkolaborasi dengan Komisi I DPR RI. Acara berlangsung di Digi Studio, Tangerang Selatan, pada Kamis, 25 Juni 2026, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di bidang teknologi dan pendidikan.
Risiko Digital dan Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak
Yudha menjelaskan bahwa anak-anak Indonesia saat ini hidup di tengah kemajuan teknologi yang pesat. Kondisi ini membuka peluang luas untuk pendidikan, kreativitas, dan inovasi. Namun, di sisi lain, terdapat berbagai ancaman seperti paparan konten negatif, perundungan siber, eksploitasi digital, penyalahgunaan data pribadi, hingga kejahatan siber. Setiap hari, jutaan anak mengakses internet tanpa pengawasan memadai, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap berbagai bahaya digital.
Menurutnya, tanggung jawab perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau orang tua. Seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif. Keluarga berfungsi sebagai benteng pertama dalam mendampingi penggunaan teknologi oleh anak, sementara sekolah memiliki peran penting dalam memperkuat literasi digital serta membangun karakter digital peserta didik. Sinergi antara rumah dan sekolah menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan lingkungan digital yang sehat.
Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan menggunakan teknologi. Mereka juga harus dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, aman, dan produktif.
Implementasi Prinsip Safety by Design dan PP TUNAS
Yudha juga mendorong penyelenggara platform digital untuk menerapkan prinsip Safety by Design, Privacy by Default, dan Age Appropriate Design. Tujuannya agar perlindungan anak menjadi bagian integral dari sistem layanan digital sejak awal pengembangan. Dengan pendekatan ini, setiap fitur dan layanan digital akan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan dan keamanan pengguna anak-anak.
Dalam webinar yang sama, pegiat literasi digital Gun Gun Siswadi menyoroti pentingnya penguatan literasi digital serta implementasi PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Peraturan ini menjadi landasan hukum yang kuat untuk memastikan platform digital memenuhi standar perlindungan anak yang komprehensif. Sementara itu, akademisi Achmad Abdul Basith menekankan perlunya membangun kedaulatan digital anak melalui sinergi antara pemerintah, DPR RI, keluarga, sekolah, media, platform digital, dan masyarakat.
Nurul Arifin juga turut mengajak generasi muda untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila di ruang digital. Kolaborasi berbagai pihak diyakini menjadi kunci menciptakan lingkungan digital yang aman dan sehat bagi perkembangan anak Indonesia. Dengan demikian, upaya Legislasi Dorong Ruang Digital yang Aman bagi Anak ini tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga menyentuh aspek nilai dan karakter bangsa.
