Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin, Tekankan NU Bertumpu pada Kualitas
Jakarta – Peluncuran Buku Rekam Gagasan Ma'ruf Amin telah resmi digelar pada hari Rabu, 5 Agustus 2026, di Jakarta. Karya literatur ini mengungkap pemikiran
Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin: NU Bertumpu pada Kualitas, Bukan Kuantitas
Tajukpublik.com – Jakarta – Peluncuran Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin telah resmi digelar pada hari Rabu, 5 Agustus 2026, di Jakarta. Karya literatur ini mengungkap pemikiran mendalam K.H. Ma’ruf Amin mengenai masa depan Nahdlatul Ulama. Buku berjudul “Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin” ini ditulis oleh Siti Haniatunnisa bersama Muhammad Zainal Arifin. Dalam kesempatan peluncuran, Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia menyampaikan pesan penting bahwa NU harus beralih dari pendekatan kuantitas menuju kualitas.
Perubahan Paradigma: Dari Jumlah ke Pemahaman
Menurut Ma’ruf Amin, tantangan terbesar bagi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia saat ini bukanlah memperluas jumlah anggota. Sebaliknya, fokus harus dialihkan pada penguatan kualitas setiap warga NU. Hal ini menjadi fondasi krusial bagi NU dalam menghadapi abad kedua. Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin secara khusus menyoroti pentingnya pemahaman mendalam sebagai dasar keanggotaan.
“Saya ingin ke depan NU dibangun lebih menitikberatkan pada kualitas warga NU, bukan kuantitas. NU itu bukan sekadar identitas, tetapi betul-betul pemahaman,” ujar Ma’ruf saat memberikan keterangan pers.
Wapres ke-13 tersebut juga mendorong pembentukan jamaah yang didasarkan pada pemahaman mendalam, bukan hanya mengikuti tradisi keluarga. Konsep ini dikenal sebagai pembangunan NU ala bashirah, yang menekankan pentingnya fondasi internal yang kuat. Setiap anggota diharapkan memahami hakikat ke-Nahdliyyahan, bukan sekadar ikut karena faktor eksternal.
Tiga Pilar Utama Organisasi Nahdlatul Ulama
Siti Haniatunnisa, salah satu penulis buku, menjelaskan bahwa pilar utama NU mencakup aspek fikrah, manhaj, serta pilar gerakan harakah. Prinsip moderat warga organisasi keagamaan ini tetap berakar pada tradisi keilmuan ulama. NU tidak bersifat statis maupun liberal, melainkan mengalami proses dinamis untuk menjawab perubahan zaman.
“NU itu tidak statis, tetapi juga tidak liberal. Ada akarnya, ada sumbernya, kemudian mengalami proses dinamis sehingga bisa menjawab perubahan zaman dengan metodenya sendiri,” ujarnya.
Pendekatan ini tercermin dalam setiap pembahasan yang termuat dalam Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin. Organisasi keagamaan ini mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas tanpa kehilangan identitas aslinya.
Proses Pendokumentasian Pemikiran Tokoh NU
Siti Haniatunnisa, yang juga merupakan putri bungsu K.H. Ma’ruf Amin, menceritakan proses panjang dalam mendokumentasikan pemikiran sang ayah. Ia merangkum rekam jejak ceramah serta diskusi ilmiah yang dilakukan oleh tokoh tersebut selama bertahun-tahun. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi untuk memastikan setiap gagasan tertangkap secara utuh.
“Beliau tumbuh bersama NU, berkhidmat di NU, memimpin NU dan menyaksikan bagaimana NU menghadapi berbagai perubahan zaman. Pengalaman panjang itu bukan sekadar perjalanan organisasi tetapi juga perjalanan ilmuwan yang sangat berharga,” ujar Siti Haniatunnisa.
Menurut Siti, penerbitan karya ini bertujuan untuk meneruskan warisan pemikiran para ulama, bukan menawarkan wajah baru dalam sejarah panjang organisasi. Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin merupakan ikhtiar sederhana untuk mendokumentasikan dan meneruskan pemikiran sebagaimana dijelaskan oleh K.H. Ma’ruf Amin.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin
Apa isi utama Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin? Buku ini membahas pemikiran K.H. Ma’ruf Amin mengenai fikrah, manhaj, dan harakah Nahdliyyah dengan penekanan pada kualitas sebagai fondasi NU.
Kapan buku ini diluncurkan? Buku Rekam Gagasan Ma’ruf Amin resmi diluncurkan pada Rabu, 5 Agustus 2026, di Jakarta.
Siapa saja penulis buku tersebut? Buku ini ditulis oleh Siti Haniatunnisa dan Muhammad Zainal Arifin, dengan Siti Haniatunnisa sebagai putri bungsu K.H. Ma’ruf Amin.
(Foto: RRI/Retno Mandasari)
