Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Makro

Mei 2026 – Neraca Perdagangan Indonesia Mulai Alami Defisit 1,61 Miliar Dolar AS

William Martin - tajukpublik.com 3 mins read 19 views

Neraca Perdagangan Indonesia Alami Defisit 1,61 Miliar Dolar AS di Mei 2026 Mei 2026 - Dalam laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca

Mei 2026 – Neraca Perdagangan Indonesia Mulai Alami Defisit 1,61 Miliar Dolar AS

Neraca Perdagangan Indonesia Alami Defisit 1,61 Miliar Dolar AS di Mei 2026

Mei 2026 – Dalam laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, mengakhiri surplus berkelanjutan selama 72 bulan sejak Mei 2020. Meski defisit ini terjadi, total perdagangan Indonesia masih menunjukkan surplus kumulatif hingga Mei 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa defisit Mei 2026 terutama disebabkan oleh peningkatan nilai impor dibandingkan ekspor.

Menurut data yang diungkapkan Ateng Hartono, nilai ekspor Indonesia di Mei 2026 mencapai 23,20 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 24,80 miliar dolar AS. Penurunan ekspor dipengaruhi oleh stagnasi permintaan global terhadap produk-produk nonmigas, sementara impor meningkat karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan kebutuhan bahan baku industri. Peningkatan impor migas hingga 27,89 persen menjadi faktor dominan dalam menyebabkan defisit Mei 2026.

“Neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS,” kata Ateng Hartono dalam keterangan persnya di Gedung BPS, Jakarta, pada Rabu, 1 Juli 2026.

Dalam periode Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan surplus kumulatif sebesar 4,3 miliar dolar AS. Meskipun defisit terjadi di Mei 2026, kinerja positif sepanjang tahun ini masih terjaga. Surplus ini didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 3,89 persen, sementara impor nonmigas meningkat 13,16 persen. Selama lima bulan pertama tahun 2026, total ekspor nonmigas mencapai 110,19 miliar dolar AS, sedangkan impor nonmigas mencapai 111,33 miliar dolar AS.

Faktor Utama yang Membentuk Defisit Mei 2026

Defisit neraca perdagangan Mei 2026 tidak hanya dipengaruhi oleh kenaikan impor migas, tetapi juga oleh volatilitas pasar global dan kenaikan harga komoditas. Peningkatan permintaan impor migas, seperti minyak bumi dan gas alam, mencapai 27,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia, terutama karena kebutuhan bahan bakar yang meningkat seiring kenaikan harga BBM non-subsidi.

Ekspor nonmigas, yang menjadi penopang utama neraca perdagangan Indonesia, juga mengalami penurunan. Dalam lima bulan pertama 2026, ekspor nonmigas hanya tumbuh 3,89 persen, dibandingkan pertumbuhan yang lebih signifikan di tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, komoditas seperti tekstil, elektronik, dan bahan tambang masih menjadi penghasil pendapatan ekspor utama. Di sisi lain, impor nonmigas meningkat secara signifikan, terutama dari barang modal dan bahan baku industri.

Komoditas dan Negara Utama dalam Perdagangan Mei 2026

Mei 2026 menunjukkan bahwa Tiongkok tetap menjadi negara utama sumber impor Indonesia, dengan kontribusi 41,83 persen dari total impor. Sementara Amerika Serikat dan India menjadi pasar ekspor utama, dengan jumlah total mencapai 44,20 persen dari total ekspor nonmigas. Tiongkok juga menjadi pengekspor utama barang modal dan bahan baku, menciptakan ketergantungan yang berdampak pada neraca perdagangan.

Di sisi lain, peningkatan ekspor nonmigas ditopang oleh komoditas utama seperti peralatan elektronik, tekstil, dan bahan baku logam. Namun, kenaikan impor dari Tiongkok yang mencapai 39,27 miliar dolar AS, diikuti oleh Jepang (5,17 miliar dolar AS) dan Australia (5,02 miliar dolar AS), menunjukkan bahwa ekspor ke pasar global masih menghadapi tantangan. Selama Mei 2026, nilai impor nonmigas mencapai 111,33 miliar dolar AS, sedangkan ekspor hanya mencapai 110,19 miliar dolar AS.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa defisit Mei 2026 mencerminkan perubahan pola perdagangan global dan tekanan terhadap rupiah. Meski defisit terjadi, surplus kumulatif hingga Mei 2026 menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menjaga keseimbangan perdagangan. Hal ini penting untuk menjaga daya beli rakyat dan stabilitas ekonomi nasional. Dengan defisit hanya terjadi di bulan Mei, Indonesia tetap berada dalam posisi yang relatif baik dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Gabung diskusi