Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Kesehatan

Kemenkes Dorong Teman Sebaya Cegah Gangguan Mental Remaja

Karen Williams - tajukpublik.com 3 mins read 8 views

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat upaya pencegahan masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda melalui program inovatif. Inisiatif

Kemenkes Dorong Teman Sebaya Cegah Gangguan Mental Remaja

Program Teman Sebaya untuk Deteksi Dini Gangguan Mental Remaja

Tajukpublik.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat upaya pencegahan masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda melalui program inovatif. Inisiatif First Aider Luka Psikologis yang diterapkan di berbagai sekolah kini menjadi salah satu strategi utama dalam mendeteksi dini gangguan psikologis pada remaja. Program ini secara khusus mendorong peran teman sebaya dalam memberikan pertolongan awal kepada remaja yang sedang menghadapi kesulitan psikologis. Dengan pendekatan yang lebih dekat dan mudah dipahami, program ini diharapkan dapat mengurangi stigma seputar kesehatan mental di lingkungan sekolah.

Menurut Psikolog Klinis Sulastry Pardede, isu kesehatan mental pada remaja Indonesia memerlukan perhatian yang lebih serius dari berbagai pihak. Data menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental yang perlu mendapat penanganan tepat. Selain itu, sekitar 50 persen gangguan jiwa mulai muncul sebelum seseorang mencapai usia 14 tahun. Angka ini menjadi alarm bagi para orang tua, guru, dan pemangku kepentingan untuk lebih aktif dalam mendeteksi gejala sejak dini.

“Satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental yang perlu mendapat perhatian serius. Sekitar 50 persen gangguan jiwa mulai muncul sebelum seseorang berusia 14 tahun,” ujar Sulastry dalam webinar First Aider Luka Psikologis di Sekolah SMP dan SMA di Jakarta, Rabu, 23 Juli 2026.

Masa Remaja sebagai Fase Rentan

Masa remaja merupakan periode paling rentan dalam menghadapi tekanan emosi, pencarian jati diri, serta pengaruh dari keluarga, sekolah, dan pergaulan. Generasi Z khususnya rentan mengalami stres akibat penggunaan media sosial yang intensif. Deteksi dini menjadi penting untuk mencegah gangguan mental berkembang lebih berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tanpa penanganan yang tepat, masalah kesehatan mental dapat berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup seseorang.

Tanda-tanda depresi meliputi sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, mudah lelah, gangguan tidur, hingga munculnya pikiran bunuh diri. Kenali gejala sejak dini agar penderita segera memperoleh penanganan tepat sebelum kondisi kesehatan mental semakin memburuk. Guru dan orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku yang terjadi pada remaja.

Peluncuran Buku dan Pelatihan

Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes bersama Dharma Wanita Persatuan meluncurkan buku dan pelatihan First Aider Luka Psikologis bagi kalangan remaja Indonesia. Program tersebut membekali remaja untuk mengenali gejala awal gangguan mental serta mendukung teman sebaya sebelum mendapat bantuan profesional. Melalui pelatihan ini, para remaja diajarkan cara memberikan dukungan emosional yang tepat kepada teman-teman mereka.

“Program ini merupakan respons atas meningkatnya kasus kesehatan mental yang dialami anak dan remaja di Indonesia. Kami berharap langkah ini memperkuat upaya pencegahan sekaligus memperluas kepedulian terhadap kesehatan mental sejak usia dini,” kata Ida Gunadi Sadikin, Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemenkes.

Ida Gunadi Sadikin menilai pendekatan melalui teman sebaya lebih efektif karena remaja cenderung lebih terbuka kepada sahabat dibandingkan kepada orang tua. Karena itu, keberadaan First Aider di lingkungan sekolah diharapkan dapat mempercepat penanganan awal. Remaja lebih sering bercerita kepada teman, sehingga deteksi gejala menjadi lebih mudah dan cepat.

“Remaja lebih sering bercerita kepada teman. Melalui First Aider, masalah kesehatan mental diharapkan bisa dikenali dan ditangani lebih cepat,” ucap Ida.

Kemudian, program ini juga bertujuan membangun ekosistem sekolah yang mendukung kesehatan mental seluruh siswanya. Dengan melibatkan teman sebaya sebagai garda terdepan, proses pencegahan dan penanganan gangguan mental menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan. Kemenkes terus mendorong agar program ini dapat diperluas ke lebih banyak sekolah di seluruh Indonesia.

Gabung diskusi