Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Kesehatan

Kemenkes: 60 Persen Lebih Penduduk RI Masih Rentan Hepatitis B

Mark Jones - tajukpublik.com 3 mins read 18 views

Jakarta, Kemenkes - Berdasarkan informasi terbaru dari Kementerian Kesehatan, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menghadapi risiko tinggi tertular

Kemenkes: 60 Persen Lebih Penduduk RI Masih Rentan Hepatitis B

Kemenkes Ungkap Lebih dari 60 Persen Warga Indonesia Belum Memiliki Kekebalan Hepatitis B

Tajukpublik.com – Jakarta, Kemenkes – Berdasarkan informasi terbaru dari Kementerian Kesehatan, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menghadapi risiko tinggi tertular hepatitis B. Program vaksinasi yang telah dijalankan sejak tahun 1997 memang berhasil mengurangi penularan pada generasi muda secara signifikan. Namun, dr. David H Muljono, Ketua Komite Ahli Hepatitis Kemenkes, menjelaskan bahwa negara ini sedang mengalami pergeseran pola epidemiologi penyakit tersebut yang memerlukan perhatian khusus.

Menurut dr. David, generasi yang mendapat imunisasi sejak bayi mengalami penurunan penularan secara signifikan. Sebaliknya, kelompok usia dewasa masih menanggung beban penyakit yang tinggi akibat penularan yang terjadi sebelum program imunisasi universal dimulai. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pencegahan yang lebih komprehensif untuk melindungi seluruh lapisan masyarakat.

Indonesia sedang mengalami perubahan epidemiologi hepatitis B, penularan pada generasi yang memperoleh imunisasi sejak bayi telah menurun secara drastis. Sedangkan beban penyakit pada kelompok usia dewasa masih mencerminkan tingginya penularan yang terjadi pada masa sebelum imunisasi universal diperkenalkan.

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kemenkes

Distribusi antibodi pelindung atau anti-HBs menunjukkan pola yang unik dan menarik perhatian para ahli. Angka perlindungan tinggi pada anak-anak berkat keberhasilan vaksinasi, lalu menurun pada remaja dan dewasa muda, sebelum naik lagi pada kelompok usia lebih tua akibat kekebalan dari infeksi alami. Data ini menjadi dasar penting bagi Kemenkes dalam merumuskan kebijakan kesehatan nasional.

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat prevalensi hepatitis B aktif yang ditandai HBsAg pada anak usia 1 hingga 4 tahun hanya sebesar 0,1 persen. Nilai ini jauh melampaui target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk eliminasi hepatitis B pada anak-anak. Pencapaian ini menunjukkan keberhasilan program imunisasi yang telah dijalankan selama beberapa dekade terakhir.

Dari sisi lain, data SKI 2023 juga mengungkap tantangan yang belum terselesaikan sepenuhnya. Prevalensi hepatitis B aktif atau HBsAg pada seluruh kelompok umur mencapai 2,4 persen. Sebanyak 19,7 persen penduduk menunjukkan bukti pernah terpapar virus hepatitis B melalui anti-HBc positif. Sementara itu, hanya 24,3 persen yang memiliki antibodi pelindung atau anti-HBs positif.

Temuan menarik lainnya adalah lebih dari 60 persen penduduk Indonesia tidak memiliki ketiga penanda serologi hepatitis B, yaitu HBsAg, anti-HBc, maupun anti-HBs. Kelompok ini belum pernah terinfeksi, namun juga belum memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kondisi ini menjadikan mereka sebagai kelompok rentan yang perlu mendapat perhatian khusus dalam strategi pencegahan.

Temuan ini menunjukkan bahwa penularan hepatitis B telah menurun secara bermakna dibandingkan dua dekade sebelumnya, tetapi masih terdapat proporsi masyarakat yang besar yang belum memiliki kekebalan terhadap infeksi hepatitis B.

Strategi Pencegahan yang Lebih Komprehensif Menurut Kemenkes

David menekankan bahwa selama penularan horizontal masih berlangsung, kelompok tanpa kekebalan tetap berisiko tertular saat memasuki usia remaja maupun dewasa. Oleh karena itu, pencegahan hepatitis B tidak bisa hanya mengandalkan imunisasi bayi. Perlindungan tambahan diperlukan untuk kelompok usia yang lebih tua agar dapat mengurangi beban penyakit secara keseluruhan.

Strategi eliminasi hepatitis di Indonesia perlu berevolusi dari pendekatan yang hanya fokus pada imunisasi menjadi pendekatan yang mencakup seluruh perjalanan penyakit. Upaya ini meliputi pencegahan infeksi baru hingga pencegahan komplikasi seperti sirosis dan kanker hati. Kemenkes terus mendorong implementasi strategi ini di seluruh wilayah Indonesia.

Langkah-langkah tersebut mencakup perluasan skrining berbasis risiko, peningkatan akses pemeriksaan laboratorium, diagnosis dini, tata laksana sesuai pedoman nasional dan WHO, pencegahan penularan dalam keluarga, serta pemberian vaksinasi catch-up bagi individu yang belum memiliki kekebalan. Semua langkah ini dirancang untuk mencapai target eliminasi hepatitis B pada tahun 2030.

Perkembangan ilmu pengetahuan juga membawa harapan baru dalam penanganan hepatitis B kronis. Pedoman WHO 2024 telah memperluas rekomendasi terapi antivirus sehingga lebih banyak pasien dapat memperoleh pengobatan sebelum penyakit berkembang menjadi sirosis atau kanker hati. Hal ini sejalan dengan arahan Kemenkes untuk meningkatkan akses pengobatan bagi seluruh pasien.

Dia menambahkan, kontribusi dari pemerintah, akademisi, organisasi profesi, dan media sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengendalian hepatitis B. Kolaborasi multipihak ini menjadi kunci keberhasilan program kesehatan nasional dalam jangka panjang.

Indonesia telah membuktikan bahwa eliminasi hepatitis bukanlah cita-cita yang mustahil. Keberhasilan mencapai target WHO pada anak menunjukkan bahwa kebijakan yang didukung bukti ilmiah dapat mengubah epidemiologi suatu penyakit.

Gabung diskusi