Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

New Policy: Dirut RRI Ingatkan Banyak Organisasi Gagal meski Miliki Renstra yang Baik

Daniel Jackson - tajukpublik.com 3 mins read 12 views

New Policy: Dirut RRI Mengingatkan Pentingnya Renstra yang Efektif Renstra yang Baik Masih Butuh Implementasi yang Konsisten New Policy – Jakarta, 8 Juli 2026

New Policy: Dirut RRI Ingatkan Banyak Organisasi Gagal meski Miliki Renstra yang Baik

New Policy: Dirut RRI Mengingatkan Pentingnya Renstra yang Efektif

Renstra yang Baik Masih Butuh Implementasi yang Konsisten

New Policy – Jakarta, 8 Juli 2026 – Direktur Utama LPP RRI, Hendrasmo, memberikan peringatan penting dalam sebuah workshop yang diadakan di Jakarta Selatan. Ia menekankan bahwa memiliki Renstra (Rencana Strategis) yang baik tidak cukup untuk menjamin keberhasilan organisasi. Dalam New Policy, Hendrasmo menyoroti bahwa kunci utama kesuksesan transformasi terletak pada komitmen dan pengimplementasian strategi yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh tim. “Renstra yang sempurna hanya menjadi dokumen jika tidak diterapkan dengan baik di lapangan,” jelasnya.

Menurut Dirut RRI, banyak organisasi gagal karena kesenjangan antara perencanaan dan tindakan. Meski memiliki visi luar biasa dan tujuan yang jelas, kurangnya komunikasi serta keterlibatan aktif semua level membuat strategi tersebut tidak berjalan maksimal. “Banyak dari kita hanya fokus pada pembuatan Renstra, tapi lupa bahwa pengimplementasian lebih penting daripada perencanaan itu sendiri,” tambah Hendrasmo. Ia mengatakan bahwa New Policy bertujuan untuk mengubah pola pikir tersebut, menjadikan Renstra sebagai pedoman yang hidup dan terus diperbarui sesuai dinamika lingkungan.

Kegagalan Dimulai dari Ketidakefektifan Komunikasi

Hendrasmo menyoroti bahwa komunikasi yang jelas dan konstan adalah fondasi penting dalam New Policy. “Kita perlu menjelaskan mengapa visi ini penting, bagaimana target harus dicapai, dan bagaimana semua pihak harus berperan,” ujarnya. Ia memberi contoh bahwa dalam beberapa organisasi, pemimpin tidak memahami urgensi Renstra, sehingga anggota tim juga tidak terdorong untuk melaksanakannya. Dalam New Policy, komunikasi menjadi bagian integral dari perencanaan, bukan hanya alat penyampaian informasi.

“Organisasi yang sukses adalah yang mampu menyelaraskan visi dengan tindakan di tingkat operasional,” tutur Hendrasmo. Ia menjelaskan bahwa kegagalan sering terjadi karena kurangnya kejelasan mengenai bagian masing-masing anggota dalam mewujudkan strategi. Dalam New Policy, seluruh pegawai diwajibkan memahami peran mereka, serta bagaimana kontribusi individu berdampak pada keseluruhan organisasi.

Peran Seluruh Level dalam Transormasi Organisasi

Menurut Dirut RRI, transformasi organisasi tidak bisa berhasil jika hanya bergantung pada direksi atau kepala satuan kerja. “Kita harus melibatkan semua level, dari tingkat daerah hingga tim lapangan,” tegasnya. Hendrasmo menekankan bahwa New Policy bertujuan untuk mengubah struktur kerja, agar setiap pegawai merasa memiliki tanggung jawab langsung terhadap keberhasilan strategi. Ini berarti bahwa proses evaluasi kinerja dan perubahan tidak hanya dilakukan oleh atasan, tetapi juga diukur melalui keterlibatan aktif seluruh anggota.

Dalam New Policy, Hendrasmo juga mendorong pembentukan budaya kerja yang proaktif dan berorientasi hasil. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan Renstra harus diukur dari dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat. “Renstra yang baik tidak cukup jika hanya mengubah sistem dalam kertas, tetapi harus menginspirasi perubahan sikap dan tindakan di lapangan,” lanjutnya. Hal ini diperkuat dengan penekanan pada pentingnya keterlibatan satuan kerja daerah dalam merancang dan mengimplementasikan strategi secara bersama.

Pelatihan dan Evaluasi sebagai Pilar Utama

New Policy juga memperkenalkan pendekatan baru dalam pelatihan dan evaluasi kinerja. Dirut RRI menegaskan bahwa perlu ada pelatihan yang berkelanjutan bagi seluruh pegawai, agar mereka mampu menerapkan strategi secara efektif. “Kita harus melatih mereka dalam berpikir strategis, bukan hanya memberi instruksi,” kata Hendrasmo. Ia menambahkan bahwa evaluasi kinerja bulanan dan semesteran menjadi alat untuk memantau progres, serta menyesuaikan strategi jika ada kebutuhan.

Dalam New Policy, evaluasi kinerja tidak hanya fokus pada output, tetapi juga pada metrik kualitatif seperti kepuasan pegawai dan keberlanjutan proses transformasi. Dirut RRI berharap dengan pendekatan ini, seluruh tim RRI akan terlibat secara penuh, sehingga visi strategis dapat terwujud dalam bentuk nyata. “Dengan New Policy, kita mengubah cara kerja dari sekadar mengikuti aturan menjadi berpartisipasi aktif dalam pencapaian tujuan bersama,” pungkasnya.

Langkah-Langkah Penting untuk Mewujudkan New Policy

Menurut Hendrasmo, New Policy dibagi menjadi tiga tahap utama: perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Tahap perencanaan fokus pada pengumpulan data dan analisis kebutuhan organisasi. Tahap implementasi menekankan pada keterlibatan semua level, sementara evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas strategi dan menyesuaikan dengan kondisi terkini. “Kita harus mengevaluasi progres setiap bulan, agar tidak ada kegagalan yang terlewat,” katanya.

Hendrasmo juga menyoroti pentingnya keterbukaan dalam New Policy. Ia mengatakan bahwa setiap pegawai harus diberi kesempatan untuk memberikan masukan, agar strategi dapat disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. “Keterbukaan ini akan membangun kepercayaan dan kolaborasi di dalam organisasi,” jelasnya. Dengan New Policy, RRI menargetkan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat, sekaligus menjadikan organisasi sebagai pusat pembelajaran dan inovasi.

Gabung diskusi