Facing Challenges: DPR Dorong LPP Perbanyak Konten Positif di Tengah Maraknya Hoaks
DPR Dorong LPP Perbanyak Konten Positif di Tengah Maraknya Hoaks Facing Challenges - Dalam upaya menantang dinamika media sosial yang semakin kompleks, DPR
DPR Dorong LPP Perbanyak Konten Positif di Tengah Maraknya Hoaks
Facing Challenges – Dalam upaya menantang dinamika media sosial yang semakin kompleks, DPR memperkuat peran Lembaga Penyiaran Publik (LPP) untuk menghadirkan konten positif yang mampu mengimbangi berita negatif dan hoaks yang marak beredar. Fokus utama ini bertujuan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disampaikan, terutama di tengah era digital yang mempercepat penyebaran berita. Tantangan ini semakin terasa karena seiring berkembangnya teknologi, narasi negatif cenderung menguasai perhatian publik, menyisakan ruang bagi LPP untuk memberikan kontribusi lebih besar.
Menyikapi Dominasi Hoaks di Media Sosial
Komisi VII DPR RI menekankan pentingnya peran LPP dalam memperkuat kualitas informasi. Wakil Ketua Komisi VII, Chusnunia Chalim, mengatakan bahwa era digital menimbulkan tantangan besar bagi penyiaran publik, terutama karena algoritma media sosial yang memprioritaskan konten yang viral, seringkali berupa berita negatif atau hoaks. “Kita harus menjadi penyeimbang, agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang bisa menyesatkan,” ujarnya.
Masyarakat kini terbiasa memperoleh informasi secara cepat, tetapi seringkali kurang menyelidiki sumbernya. Karena itu, konten positif harus diproduksi lebih banyak dan terus-menerus,” tambah Chusnunia saat melakukan RDP dengan LPP TVRI, RRI, dan LKBN Antara di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Konten Positif Sebagai Alat Perubahan Persepsi
Kebutuhan konten positif bukan hanya sebatas sekadar menyampaikan informasi baik, tetapi juga menjadi bagian dari strategi untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap Indonesia. Chusnunia menekankan bahwa berita buruk dan hoaks tidak hanya mengganggu kredibilitas media, tetapi juga mengurangi optimisme generasi muda terhadap bangsa. “Konten positif bisa menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki banyak hal yang patut dibanggakan, seperti kemajuan teknologi, keberagaman budaya, dan inisiatif kebijakan yang inklusif,” jelasnya.
Menurutnya, LPP seperti RRI memiliki tanggung jawab besar untuk menyebarkan narasi yang bermakna dan mendukung perubahan mindset masyarakat. “Kalau tidak kita dorong, ke depannya bisa menjadi masalah serius,” tegasnya. Dalam konteks ini, “facing challenges” tidak hanya menjadi pernyataan akhir, tetapi juga proses yang terus-menerus ditempuh LPP untuk memastikan informasi yang disampaikan tetap relevan dan memberi manfaat.
Transformasi Digital untuk Peningkatan Jangkauan
Dalam menghadapi tantangan digital, RRI terus mendorong transformasi layanan penyiaran melalui pemanfaatan format audiovisual dan podcast. Direktur Utama LPP RRI, I Hendrasmo, mengatakan bahwa pola konsumsi informasi publik sedang berubah, dengan masyarakat lebih memilih siniar sebagai sumber pembaruan. “Kami berupaya meningkatkan produksi konten digital agar bisa menyentuh audiens yang lebih luas,” ujarnya.
Hendrasmo menegaskan bahwa “facing challenges” dalam konten digital tidak hanya tentang menyesuaikan teknologi, tetapi juga membangun kekuatan narasi yang kuat. “Konten positif harus menjadi bagian dari strategi kami, karena ini bisa membangun kepercayaan masyarakat dan memperkuat identitas nasional,” tambahnya. RRI pun aktif berkolaborasi dengan platform seperti Spotify untuk memperluas distribusi siniar, membuktikan bahwa peran digital LPP tidak hanya menghadapi tantangan, tetapi juga memberikan solusi.
Kolaborasi dengan Platform Digital
Kolaborasi antara RRI dan Spotify menjadi contoh nyata upaya “facing challenges” dalam menghadapi perubahan era digital. Dengan memanfaatkan platform seperti Spotify, RRI memperluas jangkauan audiens, termasuk generasi muda yang lebih aktif di dunia online. “Kami percaya bahwa podcast dan siniar bisa menjadi alternatif yang efektif untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat dan menyentuh,” ujarnya.
Menurut Hendrasmo, format audio digital memiliki potensi besar untuk menjangkau audiens secara luas, terutama di daerah-daerah yang memiliki akses terbatas ke media sosial. “Kami sedang berupaya memperbarui konten siniar agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” tambahnya. Dengan “facing challenges” ini, RRI berharap bisa menjadi pilar informasi yang stabil dan bermakna, meskipun di tengah maraknya hoaks dan tantangan kompetitif di media.
Kebutuhan akan konten positif semakin ditekankan oleh DPR dan LPP, karena kontribusi informasi yang akurat bisa menjadi kunci untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya komunikasi yang terpercaya. “Focusing on positive content” menjadi strategi penting dalam menghadapi “facing challenges” yang terus-menerus menghadirkan tantangan baru di dunia digital. Dengan memperkuat kehadiran LPP, harapan besar dibawa untuk membentuk kualitas informasi yang seimbang, menciptakan dampak jangka panjang bagi pembangunan nasional.
