Formulasi Tepung Singkong Jadi Senjata Baru Lawan Api di Lahan Gambut Indonesia
Tajukpublik.com – Setiap tahun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggerogoti jutaan hektar ekosistem tropis di Nusantara. Lahan gambut, yang menyimpan cadangan karbon raksasa di bawah permukaannya, menjadi titik paling rawan karena bara api dapat menyala dari kedalaman tanah tanpa terlihat jelas dari atas. Menjawab tantangan itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja menyelesaikan uji coba skala terbatas sebuah formula pemadaman berbasis tepung singkong yang dirancang khusus untuk mengisolasi panas bawah tanah di area gambut.
Mekanisme Kimia di Balik Lapisan Pelindung
Inti inovasi ini terletak pada kombinasi dua komponen utama. Tepung singkong difungsikan sebagai pelapis fisik yang membungkus permukaan lahan gambut, membentuk penghalang mekanis terhadap perpindahan panas. Sementara itu, campuran amonium polifosfat berperan sebagai agen penghambat nyala api yang bekerja dari dalam lapisan tersebut. Ketika kedua bahan ini dicampur menjadi dispersi cair keruh dan diaplikasikan ke titik panas, lapisan yang terbentuk memotong jalur oksigen dan menahan radiasi termal agar bara di kedalaman tidak kembali menyala.
Julinton Sianturi, periset Kimia Molekuler di lingkungan BRIN, menjelaskan bahwa karakteristik unik lahan gambut—di mana panas tersimpan jauh di bawah permukaan—memerlukan pendekatan yang berbeda dari pemadaman kebakaran konvensional. Formula ini tidak sekadar membasahi permukaan, melainkan menciptakan isolasi termal berlapis yang memutus rantai reaksi pembakaran dari sumbernya.
“Api dari bawah tanah dapat terhalang lapisan sehingga penyebarannya semakin sedikit dan panas terisolasi,” ujar Julinton.
Status Uji Coba: Dari Laboratorium ke Lapangan Terbatas
Menurut Julinton, percobaan pada skala kecil telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Cairan dispersi terbukti mampu menahan laju penyebaran api pada area uji coba yang dibatasi. Namun, transisi ke skala operasional penuh masih berada dalam fase pengujian lanjutan bersama mitra teknis.
“Dalam skala kecil, kami sudah berhasil melakukan percobaan, sedangkan skala besar masih dalam pengujian bersama tersebut,” kata Julinton saat berdialog bersama PRO3 RRI, Sabtu, 5 September 2026.
Para peneliti kini tengah menyempurnakan kalkulasi kebutuhan bahan baku per satuan luas sebelum memasuki tahap uji coba yang lebih luas. Parameter seperti konsentrasi amonium polifosfat, rasio tepung pelapis, dan volume aplikasi per hektare masih dalam proses optimasi agar formula tetap efektif tanpa menimbulkan dampak residu yang merugikan tanah gambut.
Logistik Penerbangan: Drone sebagai Lengan Distribusi
Salah satu tantangan terbesar dalam pemadaman karhutla di lahan gambut adalah aksesibilitas. Banyak titik panas berada di lokasi terpencil yang sulit dijangkau kendaraan darat. Untuk mengatasi hal ini, strategi distribusi utama yang dikembangkan mengandalkan pesawat tanpa awak (drone) untuk menyemprotkan cairan pemadam langsung ke titik target.
Kebutuhan aplikasi ditetapkan sekitar dua ribu liter cairan per hektare. Angka ini menuntut kapasitas tangki dan daya angkut drone yang memadai, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan industri penerbangan nirawak dalam negeri. Penggunaan udara dinilai menjadi satu-satunya cara realistis untuk menjangkau area gambut yang terisolasi secara geografis dan topografis.
Rantai Pasokan dan Ketergantungan Impor
Di balik potensi teknologi ini terdapat satu kerentanan strategis: amonium polifosfat, bahan aktif utama dalam formula, saat ini masih diimpor dari Tiongkok karena belum tersedia produksi dalam negeri dalam skala komersial. Ketergantungan ini menjadi catatan penting bagi kesiapan operasional massal. Jika pasokan global terganggu atau harga naik tajam, kemampuan Indonesia merespons karhutla secara cepat bisa terhambat.
Evaluasi efisiensi biaya produksi terus dilakukan oleh tim riset agar, pada tahap mendatang, formula ini dapat diproduksi secara massal dengan biaya yang terjangkau. Penggantian atau diversifikasi sumber bahan baku juga menjadi pertimbangan dalam perencanaan jangka menengah.
Implikasi bagi Ekosistem dan Kebijakan Nasional
Karhutla tahunan di Indonesia bukan sekadar masalah lokal. Kebakaran di lahan gambut melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, memperburuk kabut asap lintas batas, dan menghancurkan habitat satwa endemik. Setiap hektar gambut yang terbakar setara dengan hilangnya cadangan karbon yang membutuhkan puluhan tahun untuk pulih.
Kehadiran formula berbasis bahan lokal seperti tepung singkong membawa dimensi tambahan: Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia impor sekaligus memanfaatkan komoditas pertanian yang melimpah di sentra-sentra produksi singkong. Jika berhasil dioperasionalkan secara luas, inovasi ini berpotensi menekan frekuensi dan skala kerusakan ekosistem hutan yang selama ini menjadi ancaman berulang setiap musim kemarau.
Langkah selanjutnya bagi BRIN dan mitra teknisnya adalah menyelesaikan pengujian skala menengah, memvalidasi dampak residu terhadap kesuburan tanah gambut, serta membangun protokol operasional yang dapat diintegrasikan ke dalam sistem respons cepat karhutla nasional. Keberhasilan transisi dari laboratorium ke lapangan akan menentukan apakah formula ini menjadi instrumen permanen dalam arsenal pemadaman Indonesia atau sekadar catatan eksperimen yang tidak pernah melampaui tahap uji coba terbatas.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Canggih BRIN Uji Ubi Bombing?
Canggih BRIN Uji Ubi Bombing is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Canggih BRIN Uji Ubi Bombing matter?
Canggih BRIN Uji Ubi Bombing matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

