BMKG: Saat ini El Nino Masuk Kategori Kuat
BMKG - Jakarta mencatatkan perkembangan signifikan terkait fenomena iklim global. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa El
BMKG: Fenomena El Nino Saat Ini Berstatus Kuat
Tajukpublik.com – BMKG – Jakarta mencatatkan perkembangan signifikan terkait fenomena iklim global. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa El Nino telah melampaui batas dan masuk ke dalam kategori kuat. Penguatan ini memicu percepatan berbagai langkah antisipasi oleh pemerintah, termasuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Tujuan utamanya adalah menekan risiko kekeringan serta mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di area-area yang rentan.
Kriteria El Nino Kuat dan Dampaknya
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memberikan penjelasan teknis mengenai status fenomena tersebut. El Nino dinyatakan aktif apabila suhu permukaan laut di bagian tengah Samudra Pasifik mengalami kenaikan melebihi 0,5 derajat Celsius dibandingkan kondisi rata-rata. Berdasarkan data terkini, indikator yang ada menunjukkan bahwa El Nino telah mencapai level kuat.
“Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat, jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada dua hal. Yang pertama, antisipasi terkait dengan kekeringan, dan yang kedua terkait dengan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Faisal, Selasa 28 Juli 2026.
Peningkatan intensitas El Nino sebesar 72 persen menjadi perhatian khusus. BMKG mengingatkan masyarakat akan ancaman kekeringan dan karhutla yang semakin besar di seluruh Indonesia.
Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana
Sebagai upaya mitigasi, BMKG berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta mitra swasta untuk menjalankan operasi modifikasi cuaca di berbagai lokasi. Fokus utama kegiatan ini adalah meningkatkan volume air di waduk-waduk strategis. Cadangan air tersebut sangat vital untuk mendukung irigasi pertanian, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta pasokan air bersih bagi masyarakat.
Faisal menyebutkan bahwa Indonesia memiliki total 240 waduk yang menjadi target pengisian melalui rekayasa cuaca. Tidak semua waduk akan diisi sekaligus, melainkan disesuaikan dengan fungsinya masing-masing.
“Kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih,” katanya.
Selain mengatasi ancaman kekurangan air, operasi modifikasi cuaca juga difokuskan untuk mencegah karhutla. Kawasan lahan gambut menjadi prioritas karena sangat mudah terbakar saat musim kemarau. Enam provinsi ditetapkan sebagai zona prioritas pelaksanaan operasi, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Di luar enam provinsi tersebut, modifikasi cuaca juga dilakukan secara situasional di Kepulauan Riau dan Aceh. Kegiatan ini bertujuan untuk menjenuhkan tanah gambut sehingga tidak mudah terbakar.
“Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi,” ucap Faisal.
Kesiapan Pemerintah dan Imbauan BMKG
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Dampak El Nino kuat berpotensi mengurangi pasokan air dan meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Di antaranya adalah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca dan penyiapan Satuan Tugas (Satgas) yang beroperasi baik di darat maupun udara.
“Kita ingin memastikan bahwa pemerintah juga siap dengan Satgas. Termasuk dengan menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca,” kata Menteri Agus Harimurti Yudhoyono.
Menteri AHY berharap metode modifikasi cuaca dapat segera memadamkan titik-titik api penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut. Selain itu, debit air di bendungan, waduk, dan danau diharapkan tetap berada dalam status aman.
“Melalui Operasi Modifikasi Cuaca dengan metodologi yang diharapkan bisa segera memadamkan titik-titik api. Termasuk Operasi Modifikasi Cuaca untuk memastikan debit air di bendungan dan waduk, danau dalam status yang aman,” katanya.
