Historic Moment: Disbud DKI Pamerkan Puluhan Wastra Langka di Museum Tekstil Jakarta
di Museum Tekstil Jakarta Historic Moment - Dinas Kebudayaan DKI Jakarta (Disbud DKI) meluncurkan pameran wastra langka yang menjadi historic moment penting
Historic Moment: Disbud DKI Pamerkan Wastra Langka di Museum Tekstil Jakarta
Historic Moment – Dinas Kebudayaan DKI Jakarta (Disbud DKI) meluncurkan pameran wastra langka yang menjadi historic moment penting dalam sejarah pelestarian budaya Nusantara. Pameran bertajuk “Menjaga Warisan Budaya untuk Masa Depan” diadakan di Museum Tekstil Jakarta sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-50 institusi tersebut. Acara ini menegaskan komitmen pemerintah DKI untuk menggali dan memperkaya koleksi tekstil tradisional yang memiliki nilai historis dan seni tinggi.
Detail Koleksi yang Dipamerkan
Kepala Disbud DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menjelaskan bahwa pameran ini menampilkan 60 wastra terpilih dari berbagai daerah di Indonesia. Karya-karya tersebut berasal dari sumbangan tokoh-tokoh nasional dan penggemar tekstil yang setia mengawetkan tradisi. Wastra-wastra langka ini mencakup kain tradisional dari Bali, Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, yang menggambarkan kekayaan budaya lintas wilayah.
“Wastra yang dipamerkan memiliki nilai sejarah yang sangat besar. Beberapa di antaranya sudah berusia lebih dari seratus tahun, seperti kain Gajah Birawa yang dibuat oleh R.Ay Siti Hartinah Soeharto, seorang tokoh penting dalam dunia tekstil Indonesia,” kata Tamary setelah meresmikan pameran di Museum Tekstil Jakarta Pusat.
Pameran ini bukan hanya sekadar pameran biasa, tetapi juga upaya untuk menyampaikan kisah-kisah di balik setiap kain. Misalnya, kain ulos dari Sumatra yang menjadi perhatian khusus, karena memiliki simbolisme kuat dalam budaya Batak. Dengan memamerkan wastra bersejarah ini, Disbud DKI berharap dapat menginspirasi generasi muda untuk menghargai warisan budaya.
Penerimaan Hibah Wastra Khas
Dalam acara yang sama, Museum Tekstil Jakarta menerima hibah 114 kain ulos dari kolektor Torang Sitorus. Hibah ini merupakan sumbangan pertama dari jenis kain tradisional khas Sumatra ke museum, yang secara historic moment menambah kekayaan koleksi tekstil Nusantara. Kain ulos menjadi bagian dari kurasi terbaik Himpunan Wastraprema (HWP) sejak tahun 1976.
“HWP telah menyerahkan 500 lembar wastra sejak pendiriannya, termasuk dari tokoh seperti Ibu Negara Tien Suharto, Ali Sadikin, Go Tik Swan, Gusti Putri Mangkunegoro VIII, Lasmidjah Hardi, dan Herawati Diah. Hibah ini merupakan langkah penting untuk memperkaya bentuk-bentuk warisan tekstil yang akan dipelajari oleh masyarakat,” ujar Sri Sintasari (Neneng) Iskandar, Ketua Umum HWP.
Sebelumnya, dalam peringatan 25 tahun Museum Tekstil, HWP telah menyalurkan sekitar 200 helai wastra. Dengan hibah ulos yang baru diterima, koleksi museum kini semakin lengkap. Ini memperkuat peran Museum Tekstil Jakarta sebagai pusat penelitian dan edukasi budaya, terutama dalam mengakses historic moment melalui kain yang diwariskan.
Langkah Strategis untuk Pelestarian Budaya
Disbud DKI merancang pameran ini sebagai strategi untuk menarik perhatian masyarakat luas terhadap kekayaan tekstil Indonesia. Kepala Disbud DKI mengajak warga Jakarta dan pengunjung untuk mengikuti pameran selama dua bulan, mulai 24 Juni hingga 30 Agustus 2026. Pameran ini diharapkan menjadi historic moment yang mendorong kolaborasi antara pemerintah, tokoh budaya, dan masyarakat.
Wastra seperti Gajah Birawa, yang dibuat oleh R.Ay Siti Hartinah Soeharto, menjadi daya tarik utama pameran. Kain tersebut dianggap sebagai bukti keahlian kain tradisional di era kolonial hingga modern. Selain itu, beberapa wastra memiliki asal usul dari komunitas adat yang jarang dipamerkan, seperti kain dari Aceh dan Sulawesi.
“Kolaborasi dengan kolektor dan tokoh budaya seperti Torang Sitorus adalah bagian dari upaya jangka panjang untuk menghidupkan warisan tekstil. Hibah ini menegaskan bahwa historic moment sejarah budaya tidak hanya dibangun oleh institusi, tetapi juga oleh partisipasi aktif masyarakat,” tambah Neneng.
Pameran ini juga melibatkan teknologi digital untuk memudahkan pengunjung mempelajari detail wastra. Selain pameran fisik, museum menyediakan narasi interaktif dan video pendek tentang proses pembuatan wastra. Langkah ini memberikan perspektif baru dalam memahami historic moment kehidupan budaya Indonesia melalui cara yang lebih modern.
