Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Info Kementerian

Pemerintah Dorong Platform Digital Jadi Ruang Ramah Anak

Mark Jones - tajukpublik.com 3 mins read 6 views

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendorong transformasi platform digital agar menjadi ruang yang lebih ramah bagi

Pemerintah Dorong Platform Digital Jadi Ruang Ramah Anak

Platform Digital Diminta Jadi Lingkungan Aman untuk Anak

Tajukpublik.com – Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendorong transformasi platform digital agar menjadi ruang yang lebih ramah bagi anak-anak Indonesia. Menteri Meutya Hafid menekankan bahwa perlindungan anak di dunia maya tidak cukup hanya dengan membatasi usia akses terhadap platform berisiko tinggi. Menurutnya, penyelenggara layanan digital juga harus berbenah diri agar mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Kebijakan Batas Usia Akses Media Sosial

Sebagai langkah perlindungan, pemerintah menerapkan kebijakan penundaan akses ke media sosial berisiko tinggi hingga anak berusia 16 tahun. Kebijakan ini bertujuan mengurangi potensi anak menjadi korban kejahatan digital maupun paparan konten yang membahayakan. “Fitur kontak ini sangat berbahaya. Di sinilah kadang orang dewasa yang memiliki niat tidak baik melakukan komunikasi dengan anak-anak tanpa sepengetahuan orang tua maupun guru. Itulah salah satu alasan kami menunda usia anak sampai 16 tahun untuk masuk ke ranah digital dengan risiko tinggi,” ucapnya.

Risiko yang Dihadapi Anak di Dunia Maya

Meutya menjelaskan bahwa kemajuan teknologi digital memberikan banyak manfaat bagi pendidikan dan aktivitas sehari-hari. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan berbagai risiko, mulai dari gangguan pola tidur (sleep deprivation), kecanduan media sosial, hingga paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak. Menurutnya, perubahan perilaku anak sering kali bukan disebabkan oleh karakter mereka, melainkan akibat paparan konten negatif yang diterima sebelum memiliki kesiapan secara usia.

“Anak-anak kita bukan anak yang nakal. Mereka adalah tunas bangsa yang hebat. Tetapi jika anak-anak yang baik terus-menerus terpapar konten negatif ketika usianya belum siap, tentu perilaku mereka bisa berubah,” ujarnya.

Kondisi itu, kata Meutya, dapat memengaruhi perkembangan psikologis dan perilaku anak. Selain paparan konten berbahaya, ia juga menyoroti risiko fitur interaksi pada berbagai platform digital yang memungkinkan orang asing menghubungi anak tanpa sepengetahuan orang tua maupun guru. Hal tersebut membuka peluang terjadinya berbagai bentuk kejahatan digital terhadap anak, termasuk praktik child grooming.

Pendekatan Tidak Hanya Melarang

Meski demikian, Meutya menegaskan pemerintah tidak hanya menerapkan pendekatan pelarangan terhadap platform digital. Pemerintah juga memberikan kesempatan kepada perusahaan penyelenggara platform untuk melakukan pembenahan agar layanan mereka dapat dikategorikan sebagai platform berisiko rendah dan aman bagi anak.

“Di Indonesia kita bukan sembarang melarang. Platform juga kita beri ruang untuk berlomba-lomba membuat platformnya menjadi lebih ramah anak. Kalau platform mau berubah, menghilangkan fitur kontak yang berbahaya dan memastikan hanya konten yang sesuai usia yang dapat diakses anak, maka platform tersebut bisa menjadi platform berisiko rendah dan anak-anak boleh masuk,” katanya.

Meutya menambahkan platform digital perlu menghapus fitur-fitur yang mendorong kecanduan serta memperkuat moderasi terhadap konten pornografi, perjudian daring, dan bentuk kejahatan digital lainnya. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi lingkungan yang sehat dan aman bagi tumbuh kembang anak.

“Kita memberi waktu kepada platform untuk memperbaiki dirinya agar konten-konten seperti pornografi, kejahatan digital termasuk judi online, serta fitur-fitur yang membuat anak sulit tidur dan sulit berkonsentrasi dibenahi terlebih dahulu. Ketika ruang digital sudah benar-benar ramah anak, maka mereka bisa kembali masuk dengan aman,” ujarnya.

Meutya juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan nyata. Menurutnya, anak tetap membutuhkan interaksi langsung dengan keluarga, teman sebaya, serta lingkungan sekitar agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara sosial dan emosional.

“Anak-anak tetap perlu bermain di lapangan, tetap perlu bermain bersama teman-temannya, mengenal permainan tradisional, berinteraksi dengan orang tua dan saudara. Cakap digital bukan berarti

Ucapan tersebut disampaikan Meutya saat peringatan Hari Anak Nasional dan Girls in ICT Day 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat, pada Selasa 21 Juli 2026. Ia berharap anak-anak Indonesia dapat menjadi cakap digital yang mampu mengimbangi kehidupan di ranah maya dengan kehidupan sehari-hari bersama orang tua, teman, dan sebayanya.

Gabung diskusi