Akhir Pekan – Penguatan Rupiah Berlanjut ke Rp17.963 per Dolar AS
Akhir Pekan, Rupiah Terus Menguat ke Rp17.963 per Dolar AS Akhir Pekan - Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menguat hingga akhir sesi
Akhir Pekan, Rupiah Terus Menguat ke Rp17.963 per Dolar AS
Akhir Pekan – Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menguat hingga akhir sesi perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang lokal ditutup dengan kenaikan 0,18 persen atau 32 poin, mencapai Rp17.963 per dolar AS. Analis Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa faktor eksternal menjadi pendorong utama penguatan ini.
Faktor Eksternal Memberi Dampak Positif
Menurut Ibrahim, berbagai isu global seperti perkembangan negosiasi antara AS dan Iran, penurunan harga minyak dunia, serta data ketenagakerjaan AS berkontribusi pada dinamika nilai tukar rupiah. Ia menambahkan bahwa meskipun negosiasi AS-Iran menghasilkan sinyal yang beragam, risiko geopolitik tetap terasa.
“Negosiasi AS-Iran mengirimkan sinyal yang beragam, sehingga masih menimbulkan risiko geopolitik. Iran menolak desakan AS melepas Selat Hormuz karena dianggap sebagai kompensasi pencairan dana milik Iran,” ujar Ibrahim, Jumat, 3 Juli 2026.
Data Ketenagakerjaan AS Melemah, Penguatan Rupiah Berlanjut
Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat penyerapan tenaga kerja yang kurang optimal di bulan Juni. Angka sebanyak 57 ribu, jauh di bawah ekspektasi 110 ribu. Ibrahim menjelaskan bahwa tingkat pengangguran justru turun secara tak terduga menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen, sementara pendapatan rata-rata per jam naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,5 persen tahunan.
Kondisi tersebut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Berdasarkan CME Fedwatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga the Fed menurun dari 63 persen menjadi 51 persen.
Laporan OECD: PPh Indonesia Tumbuh Lambat
Dalam negeri, Ibrahim menyoroti Laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026. Laporan tersebut menyebutkan bahwa penerimaan pajak penghasilan (PPh) Indonesia mulai melambat. Penerimaan PPh hanya naik dari Rp1.061,24 triliun pada 2023 ke Rp1.061,94 triliun di 2024, kenaikan sekitar Rp700 miliar atau 0,07 persen tahunan.
Pertumbuhan PPh terhambat karena penurunan penerimaan dari pajak korporasi. OECD mencatat, pendapatan pajak badan turun dari Rp829,66 triliun menjadi Rp818,30 triliun. Namun, PPh dari penghasilan pribadi masih mencatat peningkatan, dengan kenaikan sebesar Rp12,05 triliun.
PPh Jadi Sumber Utama Penerimaan Negara
Sebagai salah satu sumber utama pendapatan negara, perlambatan pertumbuhan PPh berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Meski total penerimaan pajak Indonesia naik dari Rp2.517,66 triliun menjadi Rp2.620,67 triliun, pertumbuhan PPh sendiri tergolong rendah dibandingkan angka keseluruhan.
