TajukPublik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ekspor Atsiri Tembus USD348,7 Juta, Kemenperin Pacu Hilirisasi

Published Agustus 20, 2026 · Updated Agustus 20, 2026 · By Sandra Smith - tajukpublik.com

Foto : Sandra Smith - tajukpublik.com

Ekspor Atsiri Tembus USD348 7 Juta: Kemenperin Percepat Hilirisasi Industri

Tajukpublik.com – Pada tahun 2025, ekspor atsiri tembus USD348 7 juta, menandai lonjakan sekitar 34,4 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Angka tersebut menempatkan Indonesia semakin kokoh sebagai eksportir minyak atsiri terbesar kelima di dunia, berada di belakang India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil. Pertumbuhan dua digit ini bukan fenomena sesaat, melainkan hasil akumulasi peningkatan kualitas produk, perluasan pasar tujuan, serta penguatan kapasitas produksi domestik yang terus didorong kebijakan pemerintah.

Di tingkat global, perdagangan minyak atsiri tercatat bernilai sekitar USD6,49 miliar pada 2025, naik dari USD6,29 miliar di tahun sebelumnya. Indonesia menyumbang porsi yang semakin signifikan dari total perdagangan tersebut, dengan lonjakan nilai ekspor yang jauh melampaui rata-rata pertumbuhan sektor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan pernyataan terkait capaian ini di Jakarta pada Rabu, 19 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa lonjakan ekspor atsiri tembus USD348 7 juta bukan sekadar angka statistik, melainkan bukti nyata daya saing produk dalam negeri di kancah internasional.

"Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk minyak atsiri Indonesia memiliki daya saing dan permintaan yang kuat di pasar global. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri."

Minyak Nilam sebagai Motor Hilirisasi

Dari seluruh spektrum produk atsiri, minyak nilam (patchouli oil) dinilai memiliki prospek pengembangan paling menjanjikan. Nilai ekspor minyak nilam Indonesia mencapai USD173,4 juta pada 2025, tumbuh sekitar 22,7 persen dari USD141,3 juta di tahun sebelumnya. Indonesia menguasai basis produksi sekaligus jaringan distribusi yang tersebar ke India, Singapura, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, Britania Raya, dan Turki.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa teknologi pemurnian dan fraksinasi mampu mengolah minyak nilam mentah menjadi hi-grade patchouli, fragrance, antiseptic, medicated oil, hingga aromatherapy. Dengan demikian, hilirisasi mengubah bahan baku bernilai rendah menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi untuk industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi.

"Dengan penguatan hilirisasi, pemanfaatan minyak nilam dapat diperluas, tidak hanya untuk pasar bahan baku. Tetapi juga menjadi input bagi industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi."

Ekosistem Terintegrasi dari Hulu ke Hilir

Putu menekankan bahwa pengembangan hilirisasi harus berjalan secara terintegrasi dan tidak parsial. Langkah konkretnya mencakup peningkatan kapasitas petani dan penyuling, penguatan kelembagaan hulu, perbaikan kualitas serta kontinuitas pasokan bahan baku, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan bagi pelaku usaha skala kecil dan menengah.

"Penguatan industri atsiri membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku industri, petani, lembaga riset, perguruan tinggi, dan mitra pasar. Dengan demikian, potensi bahan baku dapat terhubung dengan kebutuhan industri dan pasar global."

Di luar minyak nilam, diversifikasi produk atsiri juga diarahkan ke parfum dan fragrance, antiseptic dan disinfectant, medicated oil, aromatherapy, serta berbagai formulasi kosmetik dan perawatan diri. Kemenperin menilai bahwa penguatan hilirisasi membawa manfaat strategis berupa peningkatan nilai tambah komoditas, diversifikasi lini produk industri, pembukaan peluang investasi dan pasar baru, serta penguatan daya saing produk Indonesia di tingkat global.

"Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan industri minyak atsiri. Kita perlu memastikan bahwa peluang ini diterjemahkan menjadi industri hilir yang menghasilkan nilai tambah lebih besar."

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Ekspor Atsiri dan Hilirisasi

Apa yang mendorong lonjakan ekspor atsiri tembus USD348 7 juta pada 2025?

Faktor utamanya meliputi peningkatan kualitas produk olahan, perluasan pasar tujuan ke lebih dari dua belas negara, serta penguatan kapasitas produksi domestik yang didukung kebijakan hilirisasi Kemenperin. Kombinasi ketiga faktor tersebut menghasilkan pertumbuhan sekitar 34,4 persen secara year-on-year.

Bagaimana mekanisme hilirisasi minyak nilam bekerja?

Melalui teknologi pemurnian dan fraksinasi, minyak nilam mentah diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti hi-grade patchouli, fragrance, antiseptic, dan aromatherapy. Proses ini meningkatkan nilai jual per kilogram secara signifikan sekaligus membuka akses ke segmen industri parfum, farmasi, dan kosmetik yang sebelumnya tidak terjangkau oleh bahan baku mentah.

Siapa saja pihak yang terlibat dalam ekosistem hilirisasi atsiri?

Kolaborasi mencakup pemerintah melalui Kemenperin, pelaku industri pengolahan, petani penghasil bahan baku, penyuling, lembaga riset, perguruan tinggi, serta mitra pasar internasional. Sinergi lintas sektor inilah yang memastikan rantai nilai dari hulu hingga hilir berjalan berkelanjutan dan inklusif.

Related Reading