TajukPublik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Buanglah Sampah pada Pembangkit

Published Agustus 21, 2026 · Updated Agustus 21, 2026 · By Karen Garcia - tajukpublik.com

Foto : Karen Garcia - tajukpublik.com

Buanglah Sampah pada Pembangkit: Energi dari Limbah

Tajukpublik.com – Konsep Buanglah Sampah pada Pembangkit telah melampaui tahap wacana dan masuk ke fase implementasi nyata di Indonesia. Setelah energi surya terbukti terjangkau dan skalabel, limbah padat perkotaan kini diposisikan sebagai bahan bakar alternatif. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), sudah beroperasi di beberapa kota dan akan diperluas melalui program infrastruktur nasional yang menargetkan pengurangan landfill secara drastis.

Skala Tantangan: 65 Juta Ton Limbah per Tahun

Indonesia dengan populasi lebih dari 275 juta jiwa menghasilkan sekitar 65 juta ton sampah setiap tahun. Kota besar seperti Surabaya menumpuk rata-rata 178 ton per hari. Selama bertahun-tahun, limbah padat menjadi persoalan kronis di Bandung, Jakarta, dan Pulau Bali. Pemerintah kini berkomitmen menekan praktik landfilling dan menargetkan zero open burning pada tahun 2030. Dalam kerangka kebijakan tersebut, teknologi Waste-to-Energy (WtE) diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memangkas beban landfill sekaligus memproduksi listrik terbarukan.

Jejak Panjang Surabaya dalam Pengelolaan Limbah

Surabaya menyimpan rekam jejak panjang dalam pengelolaan sampah kota. Di Sukolilo, tempat pembuangan lama pernah dilengkapi mesin pengolah (incenerator) yang fungsinya sebatas membakar tanpa menghasilkan daya listrik. Mesin itu kini sudah lama teronggok menjadi besi tua. Tempat pembuangan akhir kemudian dialihkan ke Benowo, sebelah barat kota. Tumpukan sampah di Benowo telah menjulang tinggi hingga nyaris "menggelamkan" stadion sepak bola bertaraf internasional, Gelora Bung Tomo.

Benowo: Percontohan Nasional Pertama WtE

Sejak 2021, kawasan Benowo mengoperasikan pembangkit yang menggabungkan dua teknologi: landfill gas (gas metana) berkapasitas sekitar 1,65 MW untuk pengolahan gas sampah organik, serta gasifikasi (termokimia) berkapasitas sekitar 9–10 MW untuk pengolahan sampah non-organik. Total kapasitas terpasang mencapai 11–12 MW, dengan kemampuan mengolah sekitar 1.000 hingga 1.600 ton sampah per hari. Dalam operasi rata-rata, Benowo memproses sekitar 1.000 ton per hari secara terpadu, dan sebagian besar output listriknya—sekitar 9 MW—dijual ke PLN.

PLTSa Benowo ditetapkan sebagai percontohan nasional pertama teknologi waste-to-energy di Indonesia. Proyek ini merupakan joint venture antara PT Sumber Organik sebagai operator dan Pemerintah Kota Surabaya, dengan dukungan finansial dari pemerintah pusat melalui mekanisme BLPS (Biaya Layanan Pengolahan Sampah). Kerangka hukumnya ditopang oleh Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan, yang mengintegrasikan pendekatan hulu-hilir. Dengan demikian, prinsip Buanglah Sampah pada Pembangkit tidak berhenti di level teknis, tetapi tertanam dalam regulasi daerah.

Bayang-Bayang Finansial dan Operasional

Perjalanan PLTSa Benowo tidak bebas dari kendala. Sebuah kajian ilmiah dari Universitas Indonesia mencatat bahwa pembangkit ini pernah mengalami default finansial. Kombinasi pemicunya meliputi pemangkasan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 49 persen, struktur capital cost yang masih membutuhkan subsidi pemerintah berkelanjutan senilai Rp 200 miliar per tahun, serta kegagalan dalam pengelolaan residu berbahaya dan emisi yang melampaui guideline WHO.

Mekanisme Kerja dan Rencana Ekspansi

Proses konversi limbah menjadi listrik mengikuti alur berikut: sampah dikumpulkan, kemudian dikeringkan atau dipilah agar memiliki nilai bakar yang memadai. Material tersebut dibakar pada suhu sangat tinggi, sekitar 850–1.100 derajat Celsius. Panas pembakaran memanaskan air di dalam boiler hingga berubah menjadi uap bertekanan tinggi. Uap itu menggerakkan turbin yang terhubung ke generator, sehingga menghasilkan energi listrik. Gas buang kemudian disaring menggunakan teknologi canggih agar aman dan tidak mencemari udara.

Di kawasan megapolitan Jakarta, gunung sampah Bantar Gebang baru memiliki fasilitas PLTSa skala kecil yang berfungsi sebagai sarana riset dan percontohan waste-to-energy. Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berharap 12 pembangkit sampah bakal beroperasi di DKI Jakarta, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Kota Bekasi, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya, Kota Makassar, Kota Denpasar, Kota Palembang, dan Kota Manado. Proyek pembangunan lanjutan juga mencakup Solo, Palembang, Denpasar, serta rencana baru di Sulawesi Selatan.

Sampah bukan lagi sekadar beban kota. Ia adalah bahan bakar yang menunggu dikonversi—dan infrastruktur untuk melakukannya kini mulai dibangun.

Tanya Jawab: Fakta Singkat tentang PLTSa

Apakah Buanglah Sampah pada Pembangkit sudah beroperasi di Indonesia?

Ya. PLTSa Benowo di Surabaya telah beroperasi sejak 2021 dengan kapasitas terpasang 11–12 MW dan menjadi percontohan nasional pertama. Kementerian ESDM juga merencanakan 12 pembangkit serupa di berbagai kota besar.

Berapa banyak sampah yang bisa diolah per hari?

PLTSa Benowo mampu mengolah sekitar 1.000 hingga 1.600 ton sampah per hari, dengan operasi rata-rata sekitar 1.000 ton per hari secara terpadu.

Apakah teknologi ini aman bagi lingkungan?

Panas pembakaran mencapai 850–1.100 derajat Celsius dan gas buang disaring sebelum dilepas. Namun, kajian dari Universitas Indonesia mencatat bahwa pengelolaan residu berbahaya dan emisi di Benowo pernah melampaui guideline WHO, sehingga pengawasan ketat tetap diperlukan.

Siapa yang mendanai proyek PLTSa?

Proyek Benowo merupakan joint venture antara PT Sumber Organik dan Pemerintah Kota Surabaya, dengan dukungan finansial pemerintah pusat melalui mekanisme BLPS. Subsidi berkelanjutan sekitar Rp 200 miliar per tahun masih dibutuhkan untuk menutupi capital cost.

Related Reading