Sosok Dokter di balik Berdirinya RRI, Kisah Hidup dr. Abdulrachman Saleh
Dr. Abdulrachman Saleh, Dokter yang Menghubungkan Radio, Ilmu Pengetahuan, dan Perjuangan Kemerdekaan
Tajukpublik.com – Hari Radio Nasional sekaligus hari jadi Radio Republik Indonesia diperingati setiap 11 September. Di balik kelahiran lembaga penyiaran publik itu, terdapat peran besar dr. Abdulrachman Saleh, seorang dokter yang juga menaruh perhatian mendalam pada radio, pendidikan, penerbangan, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Namanya tidak hanya dikenang dalam sejarah penyiaran. Abdulrachman Saleh juga dikenal sebagai tokoh kedokteran dan perintis ilmu fisiologi di Indonesia. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa perjuangan bangsa pada masa awal kemerdekaan dijalankan oleh banyak orang dengan keahlian yang beragam, termasuk tenaga medis, pendidik, teknisi radio, dan prajurit udara.
Masa muda dan pendidikan kedokteran
Abdulrachman Saleh lahir di Jakarta pada 1 Juli 1909. Sejak usia muda, ia telah terlibat dalam organisasi pergerakan nasional, antara lain Jong Java, Indonesia Muda, serta Kepanduan Indonesia. Aktivitas tersebut membentuk keterlibatannya dalam kehidupan kebangsaan jauh sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaan.
Di bidang akademik, ia menempuh pendidikan di Geneeskundige Hogeschool atau GHS Batavia dan menyelesaikan studinya pada 1937. Setelah menjadi dokter, Abdulrachman Saleh mengajar di Nederlands Indische Artsen School di Surabaya serta GHS Batavia.
Fokus ilmiahnya berada pada fisiologi, cabang kedokteran yang mempelajari cara organ dan sistem tubuh manusia bekerja. Pada masa itu, bidang ilmu faal belum banyak diminati. Kontribusinya dalam pengembangan disiplin tersebut kemudian mendapat pengakuan ketika Universitas Indonesia menetapkannya sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia pada 1958.
Peran sebagai pengajar menunjukkan sisi lain dari kiprahnya. Ia tidak sekadar menjalankan praktik kedokteran, tetapi juga ikut menyiapkan lingkungan pendidikan bagi calon tenaga kesehatan. Jejak ini menjadikan Abdulrachman Saleh sebagai figur penting dalam sejarah perkembangan ilmu medis Indonesia.
Ketertarikan pada radio dan dunia penerbangan
Selain dunia kedokteran, Abdulrachman Saleh memiliki minat besar pada dirgantara. Ia pernah menjadi anggota klub penerbangan di Kemayoran. Ketertarikan itu kelak berkembang menjadi pengabdian nyata dalam lingkungan angkatan udara Indonesia.
Hubungannya dengan radio bahkan telah dimulai sebelum kemerdekaan. Pada 1934, ia turut mendirikan Vereniging voor Oosterse Radio-Omroep atau VORO, perkumpulan penyiaran kesenian ketimuran yang menjadi salah satu pelopor radio di Indonesia. Dua tahun setelahnya, ia dipercaya memimpin organisasi tersebut.
Pengalaman mengelola radio memberi Abdulrachman Saleh pemahaman mengenai pentingnya siaran sebagai alat komunikasi publik. Pada masa ketika arus informasi belum semudah sekarang, radio mampu menjangkau pendengar di banyak tempat dalam waktu singkat. Fungsi itu menjadi sangat krusial setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Peran dalam penyebaran kabar kemerdekaan
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Abdulrachman Saleh menyiapkan pemancar untuk menyampaikan berita tersebut ke berbagai daerah, termasuk ke luar negeri. Siaran itu dikenal sebagai Siaran Radio Indonesia Merdeka.
Radio pada masa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Kehadirannya membantu masyarakat memperoleh informasi tentang keadaan republik yang baru berdiri. Penyiaran juga menjadi sarana untuk menyampaikan arahan, tuntunan, dan pesan bagi rakyat di tengah situasi politik serta keamanan yang masih berubah cepat.
Perjalanan menuju berdirinya RRI terkait dengan berhentinya siaran Radio Hoso Kyoku pada 19 Agustus 1945. Berakhirnya siaran itu membuat masyarakat kehilangan salah satu saluran informasi yang sebelumnya dapat diakses. Para tokoh radio kemudian melihat perlunya lembaga penyiaran yang berada di bawah naungan Republik Indonesia.
Pada 11 September 1945 pukul 17.00 WIB, wakil dari delapan pengelola Radio Hoso Kyoku mengadakan pertemuan dengan pemerintah Republik Indonesia di bekas gedung Raad van Indje, Pejambon, Jakarta. Abdulrachman Saleh hadir dalam pertemuan tersebut sebagai ketua delegasi.
Ia menyampaikan gagasan pembentukan radio milik republik. Salah satu usulan utamanya adalah mendirikan Persatuan Radio Republik Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai Radio Republik Indonesia atau RRI. Peristiwa itu menjadi alasan 11 September diperingati sebagai momen penting dalam sejarah radio nasional.
Pengabdian di angkatan udara
Pengabdian Abdulrachman Saleh terus berlanjut di TNI Angkatan Udara. Pada 1946, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Komandan Pangkalan Udara Madiun. Di tengah tanggung jawab kemiliteran, ia tetap memperhatikan pendidikan dan pengembangan kemampuan sumber daya manusia.
Di Malang, ia ikut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara. Upaya itu memperlihatkan keterkaitan antara keahliannya di bidang radio dan kebutuhan pembangunan kekuatan udara Indonesia. Ia juga tetap menjalankan perannya dalam pendidikan kedokteran sebagai guru besar di perguruan tinggi kedokteran di Klaten, Jawa Tengah.
Kiprahnya mencerminkan semangat pengabdian yang melintasi batas profesi. Kedokteran memberinya dasar ilmiah, radio memperluas kemampuannya dalam komunikasi, sedangkan dunia penerbangan menempatkannya langsung dalam perjuangan mempertahankan republik.
Gugur dalam misi kemanusiaan
Abdulrachman Saleh meninggal dalam peristiwa tragis pada masa Agresi Militer Belanda I. Bersama Adisutjipto, ia mendapat tugas menuju India. Dalam perjalanan pulang pada 29 Juli 1947, keduanya singgah di Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya.
Mereka melanjutkan penerbangan dengan pesawat Dakota VT-CLA. Sebelum mencapai Maguwoharjo, Sleman, pesawat itu ditembak oleh pesawat P-40 Kitty-Hawk milik Belanda. Pesawat kemudian jatuh dan terbakar, menewaskan Abdulrachman Saleh serta Adisutjipto.
Keduanya memperoleh kenaikan pangkat secara anumerta. Sejak 1962, TNI Angkatan Udara memperingati peristiwa tersebut sebagai Hari Bakti TNI AU.
Warisan Abdulrachman Saleh tetap terasa melalui beberapa bidang yang pernah ia tekuni. Dalam sejarah kedokteran, ia dikenang karena pengembangan ilmu faal. Dalam penyiaran, ia menjadi bagian penting dari kelahiran RRI. Dalam dunia dirgantara, namanya melekat pada pengabdian awal angkatan udara Indonesia. Kisah hidupnya menegaskan bahwa radio nasional lahir dari kebutuhan mendesak untuk menjaga komunikasi, menyebarkan informasi, dan mempertahankan cita-cita kemerdekaan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Sosok Dokter di balik Berdirinya RRI Kisah?Sosok Dokter di balik Berdirinya RRI Kisah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Sosok Dokter di balik Berdirinya RRI Kisah matter?Sosok Dokter di balik Berdirinya RRI Kisah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.