KTT BRICS, Presiden Tekankan Ketahanan Pangan sebagai Kekuatan Bangsa
Prabowo Soroti Ketahanan Pangan dalam Pertemuan BRICS di India
Tajukpublik.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu unsur utama yang menentukan kekuatan dan kemandirian sebuah negara. Pesan itu disampaikan dalam sesi terbatas Konferensi Tingkat Tinggi ke-18 BRICS di India, yang membahas tata kelola global yang lebih inklusif serta penguatan kerja sama multilateral.
Bagi Indonesia, kecukupan pangan bukan sekadar agenda sektor pertanian. Isu tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan negara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, menjaga stabilitas kehidupan sehari-hari, dan menciptakan ruang bagi pembangunan jangka panjang. Ketika kebutuhan pokok warga dapat dipenuhi secara kuat dan berkelanjutan, negara memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk mengembangkan bidang lain.
"Kekuatan selalu bermula dari dalam negeri bersama rakyat kita, lewat kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Menjamin pasokan energi yang mereka perlukan, mendidik anak-anak kita, serta memberikan mereka kesempatan untuk hidup sejahtera," kata Presiden Prabowo dalam keterangan Sekretariat Presiden, Jakarta, Sabtu, 12 September 2026.
Pangan, Energi, dan Pendidikan Saling Berkaitan
Penekanan Presiden menunjukkan bahwa ketahanan nasional memiliki cakupan yang luas. Pangan menjadi kebutuhan paling mendasar, tetapi keberlangsungannya juga terhubung dengan ketersediaan energi, mutu pendidikan, dan kesempatan masyarakat untuk memperoleh kehidupan yang layak. Keempat unsur itu membentuk landasan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Ketahanan pangan berarti masyarakat memiliki akses terhadap kebutuhan makan yang memadai dan pasokan pangan dapat dijaga. Dalam konteks pembangunan bangsa, kemampuan memenuhi kebutuhan tersebut dari kekuatan domestik menjadi bagian penting dari upaya memperbesar daya tahan nasional. Negara yang mampu menjaga kebutuhan dasar warganya akan lebih siap menghadapi perubahan ekonomi maupun tantangan global.
Prabowo juga menegaskan bahwa kemandirian tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Dukungan dan persatuan dari seluruh unsur bangsa diperlukan agar tujuan besar tersebut dapat diwujudkan secara konsisten. Keterlibatan pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, petani, nelayan, pendidik, serta berbagai kelompok lainnya menjadi bagian dari proses membangun daya tahan bersama.
"Begitulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan benar-benar mandiri. Dengan bersatu, kita juga menjadi lebih kuat," ujar Presiden.
Agenda Indonesia dalam Forum BRICS
Sesi yang dihadiri Prabowo mengusung tema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism. Dalam rangkaian KTT BRICS ke-18 tersebut, para pemimpin negara anggota membicarakan langkah untuk memperkuat tata kelola global yang memberi ruang lebih luas bagi kerja sama antarnegara dan kepentingan bersama.
Indonesia mendorong kemitraan yang menghasilkan langkah nyata pada sektor pangan, energi, pendidikan, dan ekonomi. Arah kerja sama ini dipandang penting karena berbagai tantangan lintas negara tidak selalu dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Gangguan pasokan, kebutuhan energi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan kegiatan ekonomi membutuhkan koordinasi yang saling mendukung.
Kerja sama pangan dalam forum internasional dapat membuka ruang pertukaran pengalaman, penguatan kapasitas, serta pencarian solusi yang relevan bagi kebutuhan setiap negara. Namun, tujuan akhirnya tetap berada pada kesejahteraan masyarakat. Diplomasi dan kemitraan harus memberi manfaat yang dapat dirasakan, termasuk melalui penguatan kemampuan negara dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.
Kemandirian sebagai Dasar Kesejahteraan
Pesan tentang ketahanan pangan juga menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kondisi kehidupan rakyat. Produksi, distribusi, akses, dan keberlanjutan pangan memiliki dampak langsung terhadap keluarga di berbagai daerah. Karena itu, ketahanan pangan menjadi bagian dari pembicaraan mengenai kualitas hidup, ketahanan sosial, dan masa depan generasi berikutnya.
Dalam pandangan yang disampaikan Presiden, pembangunan bangsa dimulai dari kekuatan yang tumbuh di dalam negeri. Pemenuhan pangan, energi yang tersedia, pendidikan anak-anak, dan peluang hidup sejahtera merupakan unsur yang saling melengkapi. Jika salah satunya lemah, kemampuan bangsa untuk bergerak menuju kemandirian juga dapat terpengaruh.
Indonesia membawa penekanan tersebut ke forum BRICS sebagai bagian dari dorongan agar kerja sama global tetap berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat. Penguatan multilateralisme tidak berhenti pada pertemuan para pemimpin, melainkan diharapkan mampu mendukung negara-negara anggota dalam memperbesar ketahanan mereka sendiri.
Dengan menempatkan pangan sebagai pusat perhatian, Indonesia menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat merupakan ukuran penting dari kekuatan bangsa. Persatuan nasional dan kolaborasi internasional dipandang dapat berjalan beriringan: yang satu memperkuat fondasi di dalam negeri, sementara yang lain membuka peluang kerja sama untuk menghadapi tantangan bersama.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is KTT BRICS Presiden Tekankan Ketahanan Pangan?KTT BRICS Presiden Tekankan Ketahanan Pangan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does KTT BRICS Presiden Tekankan Ketahanan Pangan matter?KTT BRICS Presiden Tekankan Ketahanan Pangan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.