TajukPublik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BMKG Ungkap Kekeringan Meluas saat Puncak Kemarau 2026

Published Agustus 19, 2026 · Updated Agustus 19, 2026 · By Lisa Jones - tajukpublik.com

Foto : Lisa Jones - tajukpublik.com

BMKG: Ancaman Kekeringan Ekstrem Meluas di Puncak Kemarau 2026

Tajukpublik.com – Fenomena El Nino yang masih aktif turut memperparah potensi kekeringan ekstrem di sejumlah kawasan Indonesia. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, saat berdialog bersama PRO 3 RRI pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan Terlama

Ardhasena menjelaskan bahwa kawasan yang mencatat durasi tanpa hujan paling panjang—mencapai rentang 30 hingga 60 hari—terkonsentrasi terutama di kawasan Nusa Tenggara. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi puncak musim kemarau dan tekanan El Nino yang menekan peluang terbentuknya awan hujan di wilayah tersebut.

"Untuk daerah yang berkategori sangat panjang, antara 30 hingga 60 hari itu mayoritas ada di Nusa Tenggara."

Di samping itu, perkembangan IOD (Indian Ocean Dipole) positif di Samudra Hindia turut memperkecil curah hujan yang diterima Indonesia. Ardhasena menegaskan bahwa kehadiran El Nino dalam periode belakangan memperkuat efek kering yang sudah berlangsung sejak awal musim kemarau.

"Lalu kemudian hadirnya El Nino belakangan itu ikut memperkuat efek kering dari musim kemarau yang sudah terjadi."

Dari Kekeringan Meteorologis ke Hidrologis

Menurut Ardhasena, kekeringan yang semula bersifat meteorologis kini telah menjalar menjadi kekeringan hidrologis, khususnya di kawasan selatan khatulistiwa yang mengalami defisit hujan signifikan. Defisit tersebut memangkas pasokan uap air di atmosfer dan memicu kekeringan atmosfer yang diperkirakan bertahan hingga beberapa dasarian ke depan.

"Masyarakat yang bergantung dengan sumber air permukaan akan mengalami tantangan karena sumber air juga bergantung dari hujan."

Rekomendasi Mitigasi dan Adaptasi

Ardhasena menekankan bahwa pemerintah daerah wajib memperkuat langkah mitigasi melalui koordinasi lintas sektor, distribusi bantuan air bersih, kampanye penghematan air, serta diseminasi informasi iklim secara rutin. Ia menegaskan bahwa fase saat ini bukan lagi sekadar kewaspadaan, melainkan upaya mitigasi dan survival agar masyarakat mampu bertahan secara efisien.

Dampak lanjutan kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran lahan. Di sektor pertanian, Ardhasena mengingatkan petani untuk mengubah pola tanam: meninggalkan budidaya padi sawah dan beralih ke tanaman palawija yang lebih tahan kondisi kering.

Prakiraan Cuaca Sepekan (14–20 Agustus 2026)

Berdasarkan catatan BMKG, cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia selama periode tersebut didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, peningkatan hujan berintensitas lebat perlu diwaspadai di Sumatera Barat dan Papua Pegunungan.

Angin kencang diperkirakan melanda Aceh, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya, serta Papua Selatan. Sebelumnya, BMKG juga mencatat bahwa puncak kemarau Agustus melanda 369 Zona Musim di seluruh Indonesia.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BMKG Ungkap Kekeringan Meluas saat Puncak?

BMKG Ungkap Kekeringan Meluas saat Puncak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BMKG Ungkap Kekeringan Meluas saat Puncak matter?

BMKG Ungkap Kekeringan Meluas saat Puncak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.