TajukPublik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

IDAI Ungkap Risiko Komplikasi Neurologis akibat Influenza

Published September 18, 2026 · Updated September 18, 2026 · By Karen Williams - tajukpublik.com

Foto : Karen Williams - tajukpublik.com

Komplikasi Neurologis Influenza pada Anak Tetap Perlu Diwaspadai

Tajukpublik.com – Influenza pada anak umumnya dikenal sebagai penyakit saluran pernapasan yang dapat memicu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, atau tubuh lemas. Namun, pada sebagian kecil kasus, infeksi ini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih berat, termasuk gangguan pada sistem saraf. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa risiko tersebut perlu mendapat perhatian khusus, terutama pada balita yang sangat muda serta anak dengan penyakit penyerta.

Penjelasan ini disampaikan oleh Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, dalam konferensi pers melalui Zoom Meeting di Jakarta pada Jumat, 18 September 2026. Ia menekankan bahwa komplikasi neurologis akibat influenza tergolong langka, tetapi bukan berarti dapat diabaikan pada kelompok anak yang memiliki faktor risiko.

Influenza A Berkaitan dengan Sebagian Besar Gejala Neurologis

Angka komplikasi berat akibat influenza memang rendah. Influenza A disebut dapat menimbulkan komplikasi hingga kerusakan otak pada sekitar 0,2 persen kasus. Kendati jarang, kondisi tersebut dapat muncul pada anak tertentu, khususnya bila terdapat masalah kesehatan yang menyertai infeksi flu.

“Influenza A dapat menyebabkan komplikasi hingga kerusakan otak, meski kasus tersebut tergolong jarang dengan angka sekitar 0,2 persen. Namun, kondisi itu tetap perlu diwaspadai karena dapat terjadi pada anak dengan faktor risiko tertentu,” kata Prof. Dr. dr. Anggraini Alam.

Gambaran lainnya terlihat pada jumlah anak influenza yang mengalami tanda neurologis. Sekitar empat dari setiap 100 ribu anak yang terinfeksi influenza dapat menunjukkan gejala yang berkaitan dengan sistem saraf. Dari kelompok yang kecil itu, influenza A menjadi jenis virus yang paling sering terkait dengan masalah neurologis.

“Sekitar empat dari 100 ribu anak yang terkena influenza dapat mengalami gejala neurologis, dengan mayoritas akibat influenza A. Sekitar 80 persen kasus gejala neurologis tersebut berkaitan dengan influenza A,” ucap Anggraini.

Data tersebut menunjukkan dua hal penting bagi keluarga. Pertama, komplikasi neurologis bukan gambaran yang lazim pada anak dengan influenza. Kedua, orang tua tetap perlu memahami bahwa penyakit flu tidak selalu ringan bagi semua anak, terutama ketika anak memiliki kondisi medis yang membuat tubuhnya lebih rentan menghadapi infeksi.

Anak dengan Komorbid Memiliki Risiko Lebih Tinggi

Komplikasi berat lebih berpotensi terjadi pada anak yang memiliki komorbid atau berada dalam kondisi immunocompromised. Kelompok ini dapat mencakup anak dengan masalah kesehatan tertentu yang telah ada sebelumnya, sehingga kemampuan tubuh dalam menghadapi infeksi dapat berbeda dibandingkan anak yang sehat.

IDAI menegaskan bahwa anak sehat tanpa penyakit penyerta sangat jarang mengalami komplikasi neurologis akibat influenza. Karena itu, pesan kewaspadaan tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan pada setiap kasus flu. Fokusnya adalah mengenali kelompok yang membutuhkan perhatian lebih dini dan pemantauan lebih cermat saat mengalami infeksi.

“Komplikasi akibat influenza tidak serta-merta terjadi pada setiap anak, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan baik. Kasus komplikasi sangat jarang terjadi apabila anak dalam kondisi sehat tanpa penyakit penyerta,” ujar Anggraini.

Dalam praktik sehari-hari, keluarga yang merawat anak dengan penyakit penyerta perlu memperhatikan perubahan kondisi selama anak sakit. Demam dan keluhan pernapasan tetap harus dilihat dalam konteks kondisi kesehatan anak secara menyeluruh. Bila terdapat kekhawatiran terhadap kondisi yang memburuk, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk memperoleh penilaian yang sesuai.

Infeksi Otak Berbeda dengan Kejang Demam

Anggraini juga menyoroti perbedaan mendasar antara komplikasi infeksi yang menyerang otak dan kejang demam. Kejang demam merupakan kondisi yang cukup dikenal pada anak, terutama pada usia enam tahun ke bawah saat demam. Riwayat kejang demam dalam keluarga juga dapat berperan pada sebagian anak.

Meski sama-sama dapat muncul bersamaan dengan demam, kejang demam tidak dapat disamakan dengan infeksi yang mengenai sistem saraf pusat. Infeksi otak dapat disebabkan oleh berbagai agen, mulai dari virus dan bakteri hingga parasit atau jamur. Kondisi ini berkaitan dengan serangan langsung terhadap sistem saraf anak, bukan sekadar respons tubuh terhadap kenaikan suhu.

“Pada umumnya memang ada komorbidnya, ada immunocompromisenya yang meningkatkan risiko komplikasi dari flu yang berat. Sangat berbeda, yang namanya kejang demam itu betul-betul di luar susunan saraf otak yang merusak otak,” ucap Anggraini.

“Jadi, sangat berbeda antara kejang demam dengan infeksi yang menyerang otak pada anak. Infeksi otak dapat disebabkan virus, bakteri, parasit, hingga jamur yang menyerang sistem saraf anak,” ujar Anggraini.

Pembedaan ini penting agar orang tua tidak langsung menyimpulkan setiap kejang saat demam sebagai komplikasi kerusakan otak akibat influenza. Sebaliknya, gejala yang tidak biasa ketika anak mengalami flu juga tidak sebaiknya disepelekan, terutama pada anak dengan komorbid atau daya tahan tubuh yang terganggu.

Kewaspadaan Tanpa Menimbulkan Kepanikan

Pesan utama dari IDAI adalah menjaga keseimbangan antara kewaspadaan dan ketenangan. Influenza dapat menyebar dan menyebabkan sakit pada anak, tetapi komplikasi neurologis tetap merupakan kejadian yang sangat jarang. Anak dalam keadaan sehat pada umumnya tidak mengalami komplikasi tersebut.

Orang tua dapat berfokus pada pemantauan kondisi anak selama sakit, memastikan kebutuhan perawatan dipenuhi, serta mencari bantuan medis apabila kondisi terasa tidak wajar atau anak memiliki penyakit penyerta. Bagi keluarga dengan anak yang memiliki komorbid, diskusi dengan dokter anak dapat membantu menentukan langkah pemantauan yang paling tepat ketika gejala influenza muncul.

Dengan pemahaman yang tepat, keluarga dapat membedakan antara kekhawatiran yang perlu ditindaklanjuti dan gejala flu yang masih dapat dipantau. Risiko komplikasi memang rendah, tetapi perhatian terhadap anak yang lebih rentan tetap menjadi bagian penting dalam perlindungan kesehatan mereka.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is IDAI Ungkap Risiko Komplikasi Neurologis akibat?

IDAI Ungkap Risiko Komplikasi Neurologis akibat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does IDAI Ungkap Risiko Komplikasi Neurologis akibat matter?

IDAI Ungkap Risiko Komplikasi Neurologis akibat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.