Dua Buku Transformasi Umat Hindu Resmi Diluncurkan
Dua Buku Baru Angkat Arah Transformasi Hindu Nusantara
Tajukpublik.com – Yayasan Puri Kauhan Ubud memperkenalkan dua karya literasi yang membahas perubahan kebudayaan serta penguatan organisasi Hindu Nusantara dalam sebuah forum di Jakarta, Minggu, 13 September 2026. Peluncuran dan bedah buku berlangsung di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai ruang dialog mengenai akar tradisi, pembaruan kelembagaan, dan masa depan umat Hindu.
Dua buku yang diluncurkan ialah Tandur Taru Urip dan manifesto pemikiran Panca Kertha. Keduanya hadir dengan fokus yang saling melengkapi: satu menelaah hubungan ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan, sedangkan yang lain menawarkan rumusan agenda perubahan bagi kehidupan organisasi umat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, membuka kegiatan tersebut. Forum kemudian menghadirkan tiga rektor perguruan tinggi Hindu sebagai pembedah naskah, yakni I Gede Suwindia, Cokorda Gde Bayu Putra, dan I Wayan Wirata. Jalannya diskusi dipandu oleh Teddy C. Putra.
Sejumlah pejabat kementerian serta pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat juga hadir. Pertemuan itu menempatkan buku bukan hanya sebagai hasil pemikiran tertulis, tetapi sebagai bahan percakapan bersama tentang arah pengembangan komunitas Hindu di Indonesia yang beragam.
Tradisi sebagai Akar, Bukan Batas
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, AAGN Ari Dwipayana, memaparkan gagasan yang melandasi penulisan kedua buku tersebut. Dalam Tandur Taru Urip, pembaca diajak melihat bagaimana pengetahuan modern, keyakinan, dan warisan budaya dapat berjumpa tanpa saling meniadakan.
Gagasan itu penting dalam kehidupan masyarakat yang terus bergerak. Perubahan sosial, perkembangan pengetahuan, dan kebutuhan tata kelola yang lebih baik dapat berlangsung bersamaan dengan pemeliharaan nilai budaya. Dalam konteks ini, tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan agar masyarakat maju, melainkan sebagai sumber pijakan untuk menilai arah perkembangan.
“Mengakar kuat bukan berarti kembali ke masa lalu. Menjulang tinggi juga bukan berarti meninggalkan akar,” kata Ari.
Pernyataan tersebut menggambarkan pandangan bahwa identitas budaya perlu dirawat secara aktif. Merawat akar tidak berarti mengulang seluruh bentuk kehidupan lama tanpa penyesuaian. Sebaliknya, kemajuan juga tidak harus dipahami sebagai pemutusan hubungan dengan sejarah, memori kolektif, maupun praktik kearifan yang hidup di tengah umat.
Melalui pendekatan ini, Tandur Taru Urip dapat dibaca sebagai ajakan untuk membuka ruang percakapan antara berbagai bidang pengetahuan. Agama dan budaya memiliki peran dalam membentuk cara masyarakat memahami kehidupan, sementara ilmu pengetahuan memberi perangkat untuk menghadapi persoalan yang berkembang. Pertemuan ketiganya membutuhkan sikap terbuka, kritis, dan tetap berpijak pada nilai yang diyakini.
Lima Agenda dalam Panca Kertha
Sementara itu, Panca Kertha memuat lima agenda perubahan yang disiapkan menjelang Mahasabha XIII PHDI. Buku ini mengarahkan perhatian pada perlunya pembaruan tata kelola dan penguatan wadah bersama bagi umat Hindu Nusantara.
Ari menekankan bahwa persatuan tidak sama dengan penyeragaman. Keberagaman bentuk tradisi, ekspresi budaya, serta jalan pengabdian yang tumbuh di berbagai daerah tetap perlu memperoleh tempat. Kesatuan umat, dalam pandangan tersebut, dibangun melalui pengakuan terhadap hakikat bersama tanpa menghapus karakter lokal.
“Eka Twa, Aneka Twa, Swalaksana Bhatara—satu dalam hakikat, beragam dalam ekspresi dan jalan pengabdian,” ujar Ari.
Pesan itu memberi penekanan bahwa kebhinnekaan bukan hambatan bagi kehidupan bersama. Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila ditopang oleh komunikasi, penghormatan, dan sistem kelembagaan yang mampu menaungi seluruh unsur umat. Tantangannya adalah memastikan gagasan persatuan tidak diterjemahkan menjadi tuntutan agar setiap komunitas menjalankan praktik yang sama.
Rumusan perubahan dalam Panca Kertha juga menempatkan organisasi sebagai unsur penting dalam pemberdayaan. Rumah kelembagaan bersama dibutuhkan agar umat mempunyai ruang untuk berhimpun, menyusun agenda, dan memperjuangkan kebutuhan bersama secara berkelanjutan. Penguatan kelembagaan tidak berhenti pada susunan organisasi, melainkan berkaitan dengan kualitas tata kelola, kemampuan membangun kepercayaan, dan keterlibatan masyarakat.
Mendorong Dialog dan Pembaruan
Peluncuran dua buku di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memperlihatkan pentingnya forum literasi dalam membicarakan isu keagamaan dan kebudayaan. Diskusi buku membuka kesempatan untuk menguji gagasan melalui pertukaran pandangan, termasuk antara kalangan akademisi, tokoh organisasi, pejabat, dan masyarakat yang menaruh perhatian pada perkembangan Hindu Nusantara.
Kehadiran para rektor sebagai pembedah memberi dimensi akademik pada pembahasan karya tersebut. Naskah yang diluncurkan tidak hanya diperkenalkan kepada publik, tetapi juga ditelaah melalui diskusi yang memungkinkan pembaca memahami pokok pikiran, konteks, serta relevansinya bagi kehidupan umat.
Bagi pembaca, dua buku ini menawarkan dua jalur refleksi yang berkaitan. Pertama, bagaimana kebudayaan dan tradisi dapat tetap memiliki makna dalam perubahan zaman. Kedua, bagaimana institusi umat dapat diperbarui agar mampu menjalankan peran yang lebih kuat, bermartabat, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ari menyebut setiap umat memerlukan akar sejarah yang kokoh sekaligus tempat bersama dalam kehidupan kelembagaan. Pembaruan pengelolaan organisasi dipandang dapat membantu mengembalikan marwah dan memperluas pemberdayaan secara berkelanjutan.
“Mari kita rawat akar, kita kuatkan rumah bersama, dan kita tumbuhkan masa depan Hindu Nusantara. Mengakar kuat, menjulang tinggi. Pulihkan marwah, satukan umat, rawat kebhinnekaan, benahi tata kelola, dan berdayakan umat,” ucap Ari.
Dengan peluncuran Tandur Taru Urip dan Panca Kertha, Yayasan Puri Kauhan Ubud menghadirkan bahan refleksi bagi pembaca yang ingin memahami relasi antara warisan budaya, keberagaman umat, dan kebutuhan pembaruan organisasi. Kedua karya tersebut menegaskan bahwa masa depan dapat dibangun dengan memelihara akar, menghargai perbedaan, serta menata kehidupan bersama secara lebih baik.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Dua Buku Transformasi Umat Hindu Resmi?Dua Buku Transformasi Umat Hindu Resmi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Dua Buku Transformasi Umat Hindu Resmi matter?Dua Buku Transformasi Umat Hindu Resmi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.