Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Topics Covered: Menbud Fadli Dorong Hilirisasi Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

Daniel Jackson - tajukpublik.com 3 mins read 7 views

ng Hilirisasi Budaya Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional Topics Covered - Jakarta - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menekankan pentingnya hilirisasi budaya

Topics Covered: Menbud Fadli Dorong Hilirisasi Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

Menbud Fadli Dorong Hilirisasi Budaya Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional

Topics Covered – Jakarta – Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menekankan pentingnya hilirisasi budaya sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, potensi kekayaan budaya Indonesia tidak boleh hanya terbatas pada peninggalan sejarah, melainkan harus diubah menjadi sumber daya ekonomi yang berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan saat Fadli hadir dalam peluncuran buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba di Jabodetabek, yang diterbitkan oleh Lokus Adat Budaya Batak, di Auditorium Universitas Mpu Tantular, Jakarta Timur, Kamis, 25 Juni 2026.

Strategi Hilirisasi Budaya untuk Pembangunan Ekonomi

Dalam keterangan pers yang diterima RRI, Jumat, 26 Juni 2026, Fadli menyatakan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, selain sumber daya alam yang selama ini menjadi fokus pembangunan. Ia menekankan bahwa keragaman budaya adalah modal penting untuk menciptakan pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. “Topics Covered dalam hilirisasi budaya tidak hanya mencakup seni dan kesenian, tetapi juga mencakup objek-objek pemajuan yang lebih luas,” tambahnya.

Menurut Fadli, hilirisasi budaya Kementerian Kebudayaan bertujuan menjadikan budaya sebagai ‘engine of growth’ atau mesin penggerak ekonomi. Hal ini dilakukan dengan menjaga dan mengembangkan kekayaan intelektual masyarakat. Ia juga menyoroti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, yang mengakui kebudayaan sebagai konsep lebih luas dari ruang kesenian nasional. Regulasi tersebut mencakup sepuluh objek pemajuan, seperti adat istiadat, bahasa, tradisi lisan, dan manuskrip bersejarah.

“Budaya sangat luas, inilah kekayaan luar biasa yang kita miliki. Saya menyebutnya sebagai mega diversity, budaya merupakan modal yang sangat penting,” ujarnya.

Menurut Fadli, hilirisasi budaya harus diintegrasikan ke dalam kebijakan ekonomi nasional. Dengan memanfaatkan produk budaya, seperti seni, pertunjukan tradisional, dan warisan kuliner, Indonesia bisa memperkuat daya tarik wisata dan menggerakkan industri kreatif. “Topics Covered dalam ini mencakup pengembangan keterampilan, inovasi, dan pemasaran kekayaan budaya yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.

Adaptasi Adat Batak Toba dalam Konteks Modern

Dalam konteks budaya Batak Toba, Fadli menyoroti pentingnya dokumentasi dan pewarisan nilai-nilai adat kepada generasi mendatang. Ia mengapresiasi peluncuran buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba di Jabodetabek sebagai upaya mempertahankan adat di tengah perubahan zaman. Menurutnya, adaptasi adat Batak Toba di Jabodetabek dengan konsep 3E—Esensial, Efektif, dan Efisien—menunjukkan komitmen masyarakat untuk tetap menjaga inti nilai budaya.

“Saya mengapresiasi upaya adaptasi adat Batak Toba di wilayah Jabodetabek dengan konsep 3E, yaitu Esensial, Efektif, dan Efisien. Pendekatan tersebut dinilai sebagai bentuk penyesuaian yang tetap menjaga nilai-nilai adat di tengah kehidupan masyarakat perkotaan,” ujarnya.

Ketua Umum Dewan Mangaraja Lokus Adat Budaya Batak, Pontas Sinaga, berharap buku ini bisa menjadi jembatan antargenerasi dalam memahami nilai adat Batak Toba. Buku tersebut diterbitkan sebagai panduan praktis dalam menjalankan adat tanpa menghilangkan makna yang diwariskan. “Topics Covered dalam buku ini mencakup penyajian tradisi lisan, upaya pemanfaatan teknologi, serta integrasi budaya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jabodetabek,” kata Pontas.

Kemenbud juga mengapresiasi pelestarian budaya Batak melalui Huta Art-Space. Menurut Fadli, buku ini diharapkan mampu mengubah persepsi anak muda Batak tentang adat, menjadikannya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas dan kebanggaan masa depan. “Topics Covered dalam hilirisasi budaya tidak hanya tentang pelestarian, tetapi juga tentang pemanfaatan kekayaan budaya sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Menurut Fadli, keberhasilan hilirisasi budaya bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, lembaga budaya, dan masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana adat Batak Toba bisa dikembangkan menjadi industri kreatif, seperti pengembangan produk tekstil, kuliner tradisional, dan media sosial untuk mempromosikan budaya. “Dengan menempatkan budaya sebagai Topics Covered dalam pembangunan ekonomi, Indonesia bisa menjadi contoh dunia dalam menggabungkan heritage dengan inovasi,” pungkasnya.

Gabung diskusi