Nasional

Ratusan Gunung Api Aktif, Pakar UGM Dorong Penambahan Alat Monitoring

xl_1789530344061985_c4de6a74e0_berita_pusat-pemberitaan

Pemerataan Pemantauan Gunung Api Perlu Diperkuat

Tajukpublik.com – Indonesia menghadapi kebutuhan mendesak untuk memperluas dan memodernkan jaringan pemantauan gunung api. Dengan 127 gunung api aktif yang tersebar di banyak pulau, ketersediaan perangkat pengawasan belum setara di setiap wilayah. Sejumlah kawasan telah memiliki fasilitas memadai, sementara pos di daerah terpencil masih bekerja dengan instrumen yang terbatas.

Ketimpangan tersebut penting diperhatikan karena pemantauan tidak hanya berkaitan dengan pencatatan gempa vulkanik. Data yang lengkap dibutuhkan agar perubahan aktivitas gunung dapat dipahami lebih menyeluruh dan rekomendasi keselamatan dapat disampaikan lebih cepat kepada pemerintah daerah maupun masyarakat di sekitar kawasan rawan.

Merapi Memiliki Peralatan Paling Lengkap

Pakar Vulkanologi dari Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof. Agung Harioko, menilai Gunung Merapi menjadi contoh gunung api dengan sistem pemantauan paling lengkap di Indonesia. Situasinya berbeda dengan sejumlah gunung api di wilayah pelosok serta pulau-pulau terluar yang pada umumnya masih bertumpu pada seismometer.

“Memang masih terasa bahwa peralatan monitoring itu belum merata, di mana Gunung Merapi memiliki peralatan paling lengkap, tetapi di beberapa gunung api di pelosok kita hanya mengandalkan seismometer,” ujar Prof. Agung Harioko, Rabu, 16 September 2026.

Seismometer memiliki peran penting untuk merekam getaran atau kegempaan yang berhubungan dengan aktivitas vulkanik. Namun, perangkat itu belum cukup untuk menggambarkan seluruh perubahan yang berlangsung di dalam dan di sekitar tubuh gunung api. Pemantauan yang lebih kuat juga memerlukan informasi mengenai deformasi, atau perubahan bentuk gunung, serta kondisi geokimia gas vulkanik.

Keterbatasan data tambahan dapat membuat gambaran aktivitas gunung api tidak selengkap lokasi yang didukung banyak instrumen. Karena itu, pengadaan alat tidak sekadar berarti menambah jumlah perangkat, melainkan membangun kemampuan pengamatan yang saling melengkapi untuk membaca perubahan aktivitas secara lebih utuh.

69 Gunung Dipantau Efektif

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG di bawah Badan Geologi saat ini melakukan pemantauan efektif terhadap 69 dari 127 gunung api aktif. Di antara keseluruhan gunung tersebut, terdapat 77 gunung api Tipe A, yakni gunung dengan catatan erupsi sejak tahun 1600 yang memerlukan pengawasan langsung secara real-time.

Jumlah gunung yang harus diawasi memperlihatkan besarnya beban kerja pengamatan vulkanologi di Indonesia. Aktivitas gunung api dapat berubah, sehingga jaringan pemantauan perlu mampu mengirimkan data dari lapangan, dianalisis oleh petugas, lalu diterjemahkan menjadi rekomendasi bahaya yang bisa digunakan oleh pemangku kepentingan di daerah.

Di lokasi yang jauh dari pusat layanan, kendala instrumen pengukur dinamika magma masih menjadi persoalan. Seismometer memang dapat merekam aktivitas seismik, tetapi kemampuan tersebut belum otomatis memberikan pemetaan lengkap mengenai pergerakan magma, perubahan fisik tubuh gunung, maupun pelepasan gas. Penguatan sarana di wilayah berisiko tinggi menjadi bagian penting dari upaya mempercepat respons saat aktivitas meningkat.

Balai Regional Diharapkan Mempercepat Respons

Selain modernisasi peralatan, penguatan kelembagaan di tingkat regional dinilai perlu menjadi perhatian. Penambahan balai pemantauan di daerah dapat membantu memperpendek jalur penyampaian analisis kebencanaan dan mengurangi konsentrasi beban pengawasan di pusat.

“Mestinya ini ditambah lagi balai-balai yang ada di daerah, sehingga teman-teman di PVMBG tidak terbebani monitoring sekian banyak gunung api dari pusat,” kata Prof. Agung Harioko.

Saat ini PVMBG memiliki tiga balai regional, masing-masing berada di Yogyakarta, Sulawesi Utara, dan Ende, Nusa Tenggara Timur. Kehadiran unit di tingkat kawasan mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta mempercepat distribusi rekomendasi bahaya kepada pemerintah daerah.

Sumatra dan Maluku disebut sebagai kawasan yang dapat memperoleh manfaat besar dari tambahan balai, mengingat perlunya penguatan mitigasi pada wilayah berisiko tinggi. Struktur regional yang lebih kuat dapat membuat proses koordinasi lapangan, pengolahan informasi, dan penyampaian arahan keselamatan menjadi lebih efisien.

Teknologi Jarak Jauh untuk Keselamatan Petugas

Peningkatan fasilitas juga mencakup pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk mengukur konsentrasi gas vulkanik di area berbahaya. Instrumen semacam ini memungkinkan pemantauan tetap dilakukan ketika kondisi lapangan tidak aman untuk didekati secara langsung.

Keberadaan teknologi jarak jauh penting bagi keselamatan petugas, terutama ketika intensitas aktivitas gunung meningkat. Pemantauan tidak seharusnya bergantung pada tindakan yang menempatkan personel pada risiko tinggi, selama data yang diperlukan dapat diperoleh melalui perangkat yang tepat.

Investasi pada alat, balai regional, dan kesiapsiagaan masyarakat merupakan bagian yang saling berkaitan dalam perlindungan dari ancaman erupsi. Peralatan menghasilkan data, petugas mengubahnya menjadi analisis dan rekomendasi, sedangkan pemerintah daerah serta warga membutuhkan informasi yang jelas untuk menentukan langkah keselamatan.

Pemerataan kemampuan pemantauan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi. Langkah ini berkaitan langsung dengan kesiapan Indonesia menghadapi risiko bencana di wilayah gunung api aktif. Dengan jaringan yang lebih kuat, informasi bahaya dapat disusun lebih cepat dan upaya meminimalkan korban jiwa akibat erupsi dapat terus ditingkatkan.

Frequently Asked Questions

What is Ratusan Gunung Api Aktif Pakar UGM Dorong?

Ratusan Gunung Api Aktif Pakar UGM Dorong is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ratusan Gunung Api Aktif Pakar UGM Dorong matter?

Ratusan Gunung Api Aktif Pakar UGM Dorong matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *