Uncategorized

Geliat UMKM Kepulauan Sangihe lewat Kehadiran Destinasi Wisata Kolam Taman Sela

khrisna-edit-1788094417-1c4a396f67

Kolam Taman Sela: Wajah Baru Pariwisata Pedesaan di Kepulauan Sangihe

Tajukpublik.com – Sebuah aliran sungai jernih yang membelah perbukitan hijau di Desa Utaurano, Kabupaten Kepulauan Sangihe, kini menjadi titik pusat aktivitas rekreasi warga dan wisatawan. Di tepinya, sebuah kolam pemandian buatan berdiri berdampingan secara langsung dengan arus air alami, menciptakan pilihan ganda bagi siapa pun yang datang: menyelam di tengah derasnya sungai, atau berenang dalam kolam yang lebih tenang. Destinasi yang dikenal dengan nama Kolam Taman Sela ini resmi dibuka pada 19 Agustus 2026, menandai babak baru bagi pengembangan wisata berbasis alam di kawasan timur Sulawesi Utara.

Makna Nama dan Konsep Desain

Istilah “Taman Sela” bukan sekadar label komersial. Dalam bahasa lokal masyarakat Utaurano, frasa tersebut bermakna “tempat mandi di sebelah,” sebuah ungkapan yang secara harfiah menggambarkan posisi kolam yang menempel langsung pada aliran sungai. Konsep ini menegaskan bahwa daya tarik utama destinasi bukan pada infrastruktur buatan semata, melainkan pada keterpaduan antara elemen rekayasa sederhana dan lanskap alam yang sudah ada sejak lama. Pengunjung yang datang tidak sekadar berenang; mereka berinteraksi dengan ekosistem sungai tropis yang mengalir di antara tebing-tebing batuan vulkanik khas wilayah Sangihe.

Di sekitar area kolam, pengelola menyediakan sejumlah gazebo sebagai ruang istirahat dan bersantai. Fasilitas ini dirancang agar wisatawan dapat menikmati udara segar, mendengar gemericik air, dan melepas penat tanpa harus meninggalkan kawasan. Kehadiran elemen rekreasi ringan semacam ini memperpanjang durasi kunjungan sekaligus membuka ruang bagi aktivitas ekonomi mikro di lokasi.

Proses Pembangunan dan Peresmian

Pembangunan Kolam Taman Sela merupakan inisiatif pemerintah desa yang dikerjakan secara bertahap sebelum akhirnya diresmikan pada pertengahan Agustus 2026. Keputusan untuk membangun fasilitas ini berangkat dari potensi alam yang selama ini belum tergarap secara terstruktur. Sungai di Desa Utaurano telah lama menjadi tempat bermain warga lokal, namun tanpa pengelolaan formal, tanpa standar kebersihan, dan tanpa mekanisme ekonomi yang menopang keberlangsungan aktivitas wisata. Dengan adanya intervensi pemerintah desa, potensi tersebut kini ditata menjadi destinasi yang memiliki tata kelola, jadwal operasional, dan sumber pendapatan bagi komunitas sekitar.

Peran UMKM dan Ekonomi Lokal

Salah satu pilar utama keberlanjutan Kolam Taman Sela adalah keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Desa Utaurano. Para pedagang lokal hadir di kawasan destinasi untuk menawarkan aneka produk kuliner khas daerah. Di antara menu yang tersedia terdapat kopi khas Utaurano yang dikenal dengan nama Kopa Jase, pisang goreng renyah, Tinutuan — hidangan tradisional berbahan dasar sagu yang umum dijumpai di wilayah kepulauan utara Sulawesi — serta berbagai kue lokal yang dibuat oleh ibu-ibu rumah tangga setempat.

Kehadiran kuliner ini bukan sekadar pelengkap. Bagi masyarakat Utaurano, stan-stan kecil di kawasan wisata menjadi kanal distribusi bagi produk pangan yang selama ini hanya beredar dalam lingkup keluarga dan tetangga. Wisatawan yang selesai berenang atau bersantai di gazebo dapat langsung menikmati hidangan tersebut, sehingga pengalaman rekreasi berpadu dengan pengenalan terhadap kekayaan rasa dan tradisi kuliner desa.

“Masyarakat desa Utaurano menyuguhkan hasil-hasil karya mereka, seperti makanan danaminuman lokal yang asalnya dari desa Utaurano,” ujar Sekretaris Desa Utaurano, Febrianto Teofilos, saat berbincang dengan PRO 3 RRI pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Tata Kelola dan Keterlibatan Warga

Pengelolaan destinasi tidak diserahkan sepenuhnya kepada satu entitas. Kolam Taman Sela dioperasikan melalui kerja sama antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama warga sekitar. Pembagian tugas cukup jelas: petugas yang direkrut dari lingkungan sekitar lokasi bertanggung jawab atas pengawasan aktivitas wisatawan, pemeliharaan kebersihan area, serta jaminan keamanan pengunjung.

“Kami juga merekrut masyarakat yang ada di sekitar lokasi Taman Sela ini untuk menjadi pekerja. Mereka yang bertanggung jawab di dalam pengelolaan, baik mengawasi para wisatawan maupun menjaga setiap kebersihan,” ungkap Febri.

Mekanisme perekrutan tenaga kerja lokal ini memastikan bahwa manfaat ekonomi dari kehadiran wisata tidak hanya mengalir ke segelintir pihak, tetapi tersebar ke rumah tangga di sekitar kawasan. Bagi warga yang sebelumnya bergantung pada pertanian subsisten atau perikanan skala kecil, posisi sebagai petugas kebersihan atau penjaga area wisata membuka sumber penghasilan tambahan yang relatif stabil, terutama pada musim-musim di mana aktivitas pertanian sedang jeda.

Profil Pengunjung dan Potensi Pertumbuhan

Sejak beroperasi, jumlah kunjungan ke Kolam Taman Sela menunjukkan tren peningkatan yang konsisten, terutama pada akhir pekan. Komposisi pengunjung saat ini masih didominasi oleh wisatawan lokal — warga dari desa-desa tetangga serta beberapa kecamatan di dalam Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pola ini lazim pada tahap awal sebuah destinasi baru: masyarakat terdekat menjadi pengguna pertama sebelum reputasi destinasi menyebar ke wilayah yang lebih luas.

Kepulauan Sangihe sendiri merupakan gugus pulau di ujung utara Sulawesi yang memiliki kekayaan geologi dan biologi laut luar biasa. Dengan posisi strategis di jalur pelayaran internasional dan lanskap vulkanik yang belum banyak tersentuh industri pariwisata massal, wilayah ini menyimpan potensi besar untuk pengembangan wisata alam berbasis komunitas. Keberadaan Kolam Taman Sela dapat dibaca sebagai langkah awal dalam membangun ekosistem wisata pedesaan yang tidak bergantung pada investasi besar, melainkan pada kreativitas lokal, pengelolaan berbasis desa, dan pelestarian nilai-nilai budaya yang hidup di antara warganya.

Apabila tata kelola, standar kebersihan, dan promosi dilakukan secara konsisten, destinasi semacam ini berpotensi menjadi magnet wisata domestik yang memperkuat ekonomi mikro pedesaan sekaligus menjaga agar lanskap alam tetap menjadi aset bersama, bukan komoditas yang dieksploitasi tanpa batas. Bagi Desa Utaurano, Kolam Taman Sela bukan hanya sebuah kolam; ia adalah titik temu antara alam, budaya, dan mata pencaharian yang dikelola oleh tangan-tangan yang paling memahami tempat itu sendiri.

Frequently Asked Questions

What is Geliat UMKM Kepulauan Sangihe lewat Kehadiran?

Geliat UMKM Kepulauan Sangihe lewat Kehadiran is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Geliat UMKM Kepulauan Sangihe lewat Kehadiran matter?

Geliat UMKM Kepulauan Sangihe lewat Kehadiran matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *