Nasional

Wamensos: Kampus Harus Ikut Percepat Pengentasan Kemiskinan

xl_1787842316348764_d620d63d1d_berita_pusat-pemberitaan

Wamensos Agus Jabo: Perguruan Tinggi Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan

Tajukpublik.com – Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyerukan agar institusi pendidikan tinggi mengambil peran aktif dalam memutus rantai kemiskinan lintas generasi. Penegasan itu ia sampaikan ketika menjadi narasumber pada Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat XI (SNasPPM XI), yang diselenggarakan Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW) secara hybrid dari Aula Lantai II UNIROW, Tuban, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Agus Jabo mengikuti jalannya acara secara daring dari kantor Kementerian Sosial di Jakarta.

Seminar tersebut mengusung tema “Peran Strategis Pendidikan Tinggi untuk Membangun Generasi Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045.” Dalam paparannya, Agus Jabo menegaskan bahwa kemiskinan bukan semata persoalan pendapatan, melainkan juga menyangkut akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, gizi, keterampilan, modal usaha, dan kesempatan kerja.

Pendidikan sebagai Instrumen Pembebasan Sosial

Menurut Agus Jabo, sektor pendidikan memiliki keterkaitan langsung dengan upaya menghentikan transmisi kemiskinan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia menolak pandangan yang membatasi fungsi pendidikan hanya pada ranah akademik formal.

“Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah alat perjuangan sosial, alat mobilisasi sosial, dan alat pembebasan manusia dari kemiskinan.”

Sekolah Rakyat: Lebih dari Sekadar Bangunan

Dalam kerangka tersebut, Agus Jabo menyoroti program Sekolah Rakyat sebagai langkah pemerintah memperluas jangkauan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Ia menekankan bahwa program ini tidak terbatas pada penyediaan ruang kelas dan asrama.

“Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah. Sekolah Rakyat adalah gerakan sosial, gerakan pembebasan melawan kemiskinan.”

Riset Harus Menghasilkan Dampak Nyata

Agus Jabo mendorong agar perguruan tinggi memastikan bahwa output ilmu pengetahuan dan riset memberikan manfaat konkret bagi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa hasil penelitian tidak boleh berhenti pada tataran teoretis.

“Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berputar di ruang seminar, riset tidak boleh hanya berhenti di jurnal.”

Ia juga menggarisbawahi bahwa tolok ukur keberhasilan kampus seharusnya diukur dari perubahan yang dirasakan masyarakat, termasuk peningkatan produktivitas petani, nelayan, pelaku UMKM, dan kelompok miskin.

“Jangan hanya bertanya berapa banyak penelitian yang kita publikasikan. Tetapi tanyakanlah berapa banyak petani, nelayan, UMKM, dan masyarakat miskin yang produktivitasnya meningkat.”

Membangun Ekosistem Pemberdayaan

Agus Jabo menilai kolaborasi antara Kemensos dan perguruan tinggi dapat diarahkan pada pemberdayaan masyarakat secara terintegrasi. Kemensos menyediakan sasaran program, pendamping sosial, sentra layanan, dan berbagai instrumen sosial. Di sisi lain, perguruan tinggi memiliki sumber daya berupa dosen, mahasiswa, laboratorium, serta kapasitas riset dan inovasi. Dunia usaha dapat menyokong melalui penyediaan modal dan akses pasar, sementara pemerintah daerah membawa potensi spesifik wilayah masing-masing.

“Kalau kekuatan ini kita gabungkan, kita bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih besar. Inilah yang saya sebut sebagai ekosistem pemberdayaan masyarakat.”

Dari Perlindungan Sosial Menuju Kemandirian

Agus Jabo mengakui bahwa perlindungan sosial tetap diperlukan bagi masyarakat yang tengah menghadapi krisis. Namun, ia menegaskan bahwa intervensi sosial harus diarahkan agar masyarakat mampu berdiri di atas kaki sendiri.

“Tugas kita bukan membuat masyarakat harus menunggu bantuan sosial. Tugas kita adalah membuat masyarakat bisa berdaya dan mandiri, hidup sejahtera.”

Oleh karena itu, Kemensos mendorong pemberdayaan ekonomi melalui jalur kewirausahaan, bantuan modal, serta pelatihan keterampilan. Perguruan tinggi dapat terlibat melalui pendampingan berkelanjutan yang mencakup asesmen, pelatihan, praktik lapangan, akses modal dan pasar, pengembangan usaha, hingga evaluasi. Seluruh proses itu diarahkan agar masyarakat mampu berkembang hingga mencapai tahap graduasi.

Ajakan “Kampus Berdaya Menuju Masyarakat Mandiri”

Agus Jabo mengajak perguruan tinggi menggerakkan inisiatif “Kampus Berdaya Menuju Masyarakat Mandiri” yang dapat diwujudkan melalui desa binaan, UMKM binaan, dan laboratorium kewirausahaan sosial. Ia mengingatkan agar tolok ukur keberhasilan tidak terletak pada jumlah kegiatan, melainkan pada perubahan ekonomi riil.

“Bukan berapa banyak kegiatan yang kita lakukan, tetapi berapa banyak pendapatan masyarakat meningkat, berapa banyak usaha tumbuh.”

Ia juga menekankan pentingnya mengukur jumlah lapangan kerja yang tercipta serta keluarga yang berhasil keluar dari jurang kemiskinan.

Menatap Indonesia Emas 2045

Agus Jabo berharap perguruan tinggi melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus produktif, berkarakter, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

“Dari kampus kita bangun ilmu, dari ilmu kita bangun inovasi, dari inovasi kita bangun produksi.”

Ia menutup paparannya dengan harapan bahwa proses tersebut mampu memperkuat kemandirian dan kesejahteraan masyarakat sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Frequently Asked Questions

What is Wamensos?

Wamensos is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Wamensos matter?

Wamensos matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *