Iptek

BRIN dan Ukraina Perkuat Riset Antartika dan Tropis

xl_1787300962075778_f88c00a203_berita_humas-kementrian-lembaga

BRIN dan Ukraina Perkuat Riset Antartika–Tropis: Perjanjian Strategis Diresmikan

Tajukpublik.com – Di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis 20 Agustus 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama National Antarctic Scientific Center (NASC) Ukraina menandatangani perjanjian kerja sama ilmiah. Langkah ini menegaskan bahwa BRIN dan Ukraina memperkuat riset di kawasan Antartika dan wilayah tropis, sekaligus menjadi wujud nyata komitmen kedua negara untuk memahami dinamika iklim global secara lebih komprehensif.

Landasan Strategis dan Dimensi Ekologis

Nunung Nuryartono, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, menjelaskan bahwa perjanjian ini bukan sekadar instrumen pertukaran data antarpeneliti. Ia menekankan bahwa kawasan kutub dan tropis, meskipun terpisah ribuan kilometer secara geografis, terhubung erat melalui mekanisme iklim, sirkulasi laut, dan siklus atmosfer. Fenomena yang terjadi di Antartika—seperti pencairan es, perubahan arus laut, dan pergeseran pola cuaca—dapat berdampak langsung pada cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, dan gangguan ekosistem di daerah tropis seperti Indonesia.

“Penandatanganan kerja sama ini menjadi tonggak sejarah yang sangat penting dalam memperluas jangkauan pengetahuan Antartika dan tropis,” ujar Nunung.

Dengan demikian, BRIN dan Ukraina memperkuat riset lintas kawasan bukan hanya untuk kepentingan akademis, tetapi juga untuk membangun basis ilmiah yang diperlukan dalam perumusan kebijakan adaptasi perubahan iklim di tingkat nasional maupun regional.

Tiga Pilar Manfaat dan Ruang Lingkup Kajian

Nunung merinci tiga keuntungan utama dari kemitraan ini. Pertama, peningkatan kapasitas riset melalui pertukaran data, pemanfaatan fasilitas laboratorium, dan kolaborasi antarpeliti dari kedua institusi. Kedua, terbukanya akses ke ekosistem dan infrastruktur penelitian yang lebih luas, termasuk kemungkinan pelaksanaan ekspedisi gabungan ke kawasan Antartika. Ketiga, penguatan posisi Indonesia dalam forum riset kutub dan isu-isu global seperti perubahan iklim serta kelestarian lingkungan.

Bidang kajian yang berpotensi dikembangkan mencakup keterkaitan ekologis kawasan kutub–tropis, dinamika perubahan iklim, oseanografi, geologi, dan keanekaragaman hayati. Cakupan riset juga menjangkau mekanisme adaptasi organisme terhadap kondisi ekstrem serta dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan di kedua kawasan. Kolaborasi semacam ini memungkinkan pendekatan multidisipliner yang tidak dapat dicapai oleh satu negara secara mandiri.

Progres Proposal dan Target Waktu

Kemitraan ini merupakan hasil dari komunikasi bilateral yang telah berlangsung sejak 2025. Prosesnya diperkuat melalui rangkaian pertemuan teknis, diskusi riset kutub dan tropis, pembahasan pemanfaatan fasilitas, kunjungan ke instalasi BRIN, serta penyusunan proposal penelitian bersama. Hingga saat ini, Indonesia telah mengajukan sembilan proposal yang tengah dalam tahap peninjauan dan finalisasi bersama mitra Ukraina.

Ratih Damayanti, Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran BRIN, menyampaikan bahwa kedua negara menargetkan pelaksanaan seminar bersama serta kemungkinan ekspedisi penelitian pada akhir 2026. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi tindak lanjut konkret dari perjanjian yang telah ditandatangani dan membuka jalur bagi riset lanjutan yang lebih mendalam.

Perspektif Ukraina dan Implikasi Jangka Panjang

Chargé d’Affaires Kedutaan Besar Ukraina di Indonesia, Yevhenia Shynkarenko, menilai kesepakatan ini membawa makna simbolis karena mempertemukan Indonesia—negara tropis—dengan Ukraina yang memiliki rekam jejak panjang dalam penelitian Antartika. Ia menegaskan bahwa dinamika di wilayah kutub dan tropis saling terkait dalam sistem iklim global, sehingga kolaborasi ilmiah kedua negara berpotensi melahirkan perspektif serta temuan baru yang bernilai bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Shynkarenko menambahkan bahwa perjanjian tersebut akan menjadi kerangka kerja bagi riset bersama, pertukaran ilmuwan, berbagi data dan keahlian, serta pengembangan proyek-proyek ilmiah baru. Kolaborasi ini juga akan melibatkan generasi peneliti muda dari kedua negara, memastikan keberlanjutan kapasitas ilmiah lintas generasi.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kerja Sama BRIN–NASC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *