Kekeringan Meluas di Karawang, Belasan Ribu Warga Terdampak
Musim kemarau tahun ini membawa dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Berdasarkan laporan resmi dari Badan
Kekeringan Meluas di Karawang Belasan Ribu Warga Mengalami Krisis Air
Tajukpublik.com – Musim kemarau tahun ini membawa dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Berdasarkan laporan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, wilayah yang mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih terus bertambah setiap harinya. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 4.044 kepala keluarga atau setara dengan 12.155 jiwa di sembilan desa yang merasakan dampak langsung dari bencana kekeringan ini.
Ferry Muharram, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, menjelaskan bahwa wilayah terdampak tersebar di empat kecamatan yang berbeda. Keempat kecamatan tersebut adalah Tegalwaru, Ciampel, Pangkalan, serta Telukjambe Barat. Menurut keterangan yang disampaikan pada Kamis, 30 Juli 2026, Kecamatan Tegalwaru menjadi kawasan yang paling parah mengalami kekeringan dibandingkan kecamatan lainnya.
Penyebaran Dampak Kekeringan di Setiap Kecamatan
Di Desa Kutalanggeng dan Desa Cintalanggeng, sebanyak 1.386 KK atau 3.876 jiwa menghadapi masalah krisis air bersih yang cukup serius. Sementara itu, Kecamatan Pangkalan juga merasakan dampaknya melalui tiga desa, yaitu Kertasari, Mulangsari, dan Jatilaksana. Total warga terdampak di kawasan ini mencapai 656 KK atau 1.728 jiwa yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kecamatan Telukjambe Barat mencatat krisis air bersih di Desa Wanakerta yang berdampak pada 417 KK atau 1.590 jiwa. Di sisi lain, Kecamatan Ciampel juga tidak luput dari dampak kekeringan yang meluas. Sekitar 1.200 KK di Desa Parungmulya, Mulyasejati, dan Kutanegara mengalami kesulitan air selama musim kemarau berlangsung. Kondisi ini semakin memperparah kehidupan masyarakat setempat.
“Kecamatan Tegalwaru menjadi wilayah yang paling terdampak,” ujar Ferry Muharram saat memberikan keterangan pers.
Upaya Distribusi Bantuan Air Bersih oleh BPBD
Sejak fenomena kekeringan dimulai pada 11 Juni 2026, BPBD Karawang telah bekerja sama dengan instansi terkait untuk mendistribusikan bantuan air bersih ke berbagai desa yang mengalami krisis. Ferry menambahkan bahwa pemantauan kondisi di lapangan akan terus dilakukan secara berkala. Bantuan air bersih juga akan disalurkan selama musim kemarau belum berakhir dan kebutuhan masyarakat masih terpenuhi.
Berdasarkan data BPBD, jumlah wilayah terdampak mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sebelumnya, hanya enam desa di Kecamatan Tegalwaru, Pangkalan, dan Ciampel yang terdampak sekitar satu minggu lalu. Kini, cakupan wilayah yang terdampak semakin meluas ke desa-desa lain di empat kecamatan tersebut. Masyarakat diharapkan dapat menghemat penggunaan air hingga kondisi membaik.
Kondisi kekeringan ini juga berdampak pada sektor pertanian di Karawang. Banyak petani yang mengalami gagal panen akibat tidak adanya sumber air untuk mengairi sawah mereka. Pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi dan siap memberikan bantuan tambahan jika diperlukan. Semoga kekeringan ini segera berakhir dan masyarakat Karawang dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
