Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Hiburan

‘Jangan Buang Ibu’ Buktikan Kisah Keluarga Masih Diminati Penonton Indonesia

Karen Garcia - tajukpublik.com 3 mins read 9 views

Jakarta – Film Jangan Buang Ibu kembali membuktikan bahwa kisah keluarga masih menjadi tontonan favorit masyarakat Indonesia. Dengan total penonton mencapai

‘Jangan Buang Ibu’ Buktikan Kisah Keluarga Masih Diminati Penonton Indonesia

Jangan Buang Ibu Buktikan Kisah Keluarga Diminati Penonton

Tajukpublik.com – Jakarta – Film Jangan Buang Ibu kembali membuktikan bahwa kisah keluarga masih menjadi tontonan favorit masyarakat Indonesia. Dengan total penonton mencapai 3,2 juta orang, karya ini menunjukkan bahwa cerita-cerita domestik memiliki daya tarik yang kuat. Selain sukses di tanah air, film ini juga resmi memulai peredarannya di Malaysia sejak 16 Juli 2026. Pencapaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa penonton Indonesia masih sangat menyukai film bertema keluarga.

Proses Adaptasi dari Novel ke Layar Lebar

Agung Saputra, produser film tersebut, mengungkapkan bahwa kesuksesan ini tidak lepas dari proses adaptasi yang matang. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul sama yang ditulis oleh Wahyu Derapriyangga. Naskah kemudian disempurnakan bersama Widya sebelum Hadrah Daeng Ratu mengambil alih sebagai sutradara. Proses kreatif ini memastikan cerita tetap setia pada sumber aslinya namun tetap relevan dengan penonton modern.

“Sekarang ‘Jangan Buang Ibu’ sudah menyentuh 3,2 juta penonton di bioskop. Lalu, tanggal 16 kemarin mulai tayang di Malaysia dan mudah-mudahan disambut hangat dan ditonton oleh banyak orang,” ujar Agung Saputra dalam kegiatan Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri dan Nonton Bareng Film Nasional ‘Jangan Buang Ibu’ dan ‘Takkan Kubiarkan Kau Menangis’ di CGV Depok Mall, Depok, Selasa, 21 Juli 2026.

Menurut Agung, inspirasi utama film ini datang dari pengalaman hidup yang relevan dengan keseharian keluarga Indonesia. Ia menekankan bahwa kasih sayang orang tua serta dinamika kehidupan diracik sedemikian rupa untuk menyentuh hati penonton. Film ini berhasil menangkap esensi hubungan antar generasi yang sering kali diabaikan dalam kehidupan modern.

Promosi dan Klasifikasi Usia

Tantangan lain yang dihadapi tim produksi adalah pemilihan pemeran yang tepat sesuai karakter. Selain itu, mereka juga harus bersaing dengan film-film Hollywood yang dirilis pada periode yang sama. Untuk memperkenalkan karya ini kepada publik, tim produksi melakukan promosi di 20 kota di Indonesia sebelum penayangan nasional. Upaya tersebut terbukti berhasil dengan antusiasme penonton yang tinggi di setiap kota yang dikunjungi.

“Kami datang ke dua puluh kota di Indonesia untuk membawa pesan kami punya film bagus yang layak ditonton. Alhamdulillah, setiap kota yang kami datangi, peserta yang nonton duluan itu sekitar 3.000 sampai 6.500,” kata Agung.

Sementara itu, Lembaga Sensor Film (LSF) menekankan pentingnya klasifikasi usia untuk melindungi masyarakat. Jangan Buang Ibu telah mendapatkan peringkat 13 tahun ke atas, sehingga sangat cocok untuk dinikmati bersama keluarga. Klasifikasi ini memastikan bahwa konten film sesuai dengan usia penontonnya.

“Klasifikasi usia tadi ada 4 macam, semua umur, 13 tahun ke atas, 17 tahun ke atas, dan 21 tahun ke atas. Film Jangan Buang Ibu contohnya, itu 13 tahun ke atas,” ucap Tri Widyastuti Setyaningsih, Ketua Komisi I LSF.

Tri juga mengajak masyarakat untuk menerapkan budaya sensor mandiri dengan selalu memperhatikan klasifikasi usia sebelum menonton film. Langkah ini memastikan manfaat film sebagai media budaya, pendidikan, dan hiburan dapat dirasakan secara optimal. Dengan demikian, Jangan Buang Ibu tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

Gabung diskusi