Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Latest Program: Wamen LH: Kebakaran TPA Jatiwaringin Berpotensi Picu Ledakan

Karen Williams - tajukpublik.com 3 mins read 15 views

Wamen LH Peringatkan Risiko Ledakan dari Kebakaran TPA Jatiwaringin Latest Program : Wamen Lingkungan Hidup (LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono

Latest Program: Wamen LH: Kebakaran TPA Jatiwaringin Berpotensi Picu Ledakan

Wamen LH Peringatkan Risiko Ledakan dari Kebakaran TPA Jatiwaringin

Latest Program: Wamen Lingkungan Hidup (LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono, mengingatkan bahwa kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, berpotensi memicu ledakan. Peringatan ini diberikan saat ia melakukan inspeksi langsung ke lokasi kejadian, Sabtu 4 Juli 2026. Menurut Diaz, kondisi api di TPA menyerupai kebakaran lahan gambut, di mana permukaan terlihat tenang, namun api masih merambat di lapisan bawah. “Kapan saja bisa terjadi kembali, terutama karena gas CH₄ yang terakumulasi berpotensi menyebabkan ledakan,” tambahnya.

Latest Program: TPA Jatiwaringin Menghadapi Ancaman Pencemaran Berat

Menanggapi situasi yang memprihatinkan, KLH telah mengaktifkan dua sistem pemantauan mobile untuk mengukur konsentrasi gas SO₂, NO₂, dan partikel PM 1.0 serta PM 2.5. “Angka yang tercatat sudah melebihi batas baku mutu,” kata Diaz. Ia menegaskan bahwa standar baku mutu untuk gas SO₂ adalah 15,5, sedangkan ambang batas keberadaan gas berbahaya mencapai 55,5. “Saat ini, tingkat pencemaran mencapai 1.000, sehingga kualitas udara sangat buruk,” jelasnya.

“Ketika daya listrik tidak stabil, sistem pemantauan terganggu. Ini mengurangi kemampuan deteksi titik api secara real-time,” tambah Diaz. Ia menyebutkan bahwa daya listrik yang diperlukan untuk operasional sistem monitoring mencapai 3.500 watt.

Upaya perbaikan daya listrik berlangsung cepat. Setelah beberapa menit, listrik kembali stabil, sehingga pemantauan bisa dilanjutkan. Namun, Diaz menyoroti dua tantangan utama: ketergantungan pada drone thermal untuk mendeteksi sumber api, serta keterbatasan pasokan listrik yang membuat sistem monitoring terkadang lumpuh. “Kita harus mengoptimalkan sumber daya dan teknologi untuk meminimalkan risiko,” tegasnya.

Latest Program: Drone Thermal Jadi Alat Utama dalam Pemantauan Api

KLH berencana menggunakan drone thermal secara rutin untuk memantau TPA Jatiwaringin. Teknologi ini diharapkan bisa membantu tim lapangan mengidentifikasi titik api yang tersembunyi di bawah lapisan tanah. “Koordinasi dengan TNI AU dan bandara sedang dilakukan agar drone bisa digunakan secara efektif,” ujarnya. Diaz juga menyebutkan bahwa drone thermal membantu mengurangi risiko kebakaran meluas karena mampu mendeteksi api pada jarak jauh.

“Karena daya listrik untuk drone cukup besar, dan posko di lokasi mengandalkan pasokan listrik, maka sistem monitoring sempat terhambat,” kata Diaz. Ia menjelaskan bahwa daya yang diperlukan untuk drone thermal mencapai 5.000 watt, sehingga harus ada cadangan listrik yang memadai.

Terlepas dari tantangan teknis, pihak berwenang tetap berupaya mengendalikan kebakaran. Operasional TPA Jatiwaringin dilanjutkan agar sampah tidak menumpuk di jalan raya. “TPA Jatiwaringin tetap kita gunakan, agar tidak terjadi penumpukan sampah yang mengganggu aktivitas masyarakat,” tambah Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, Kamis 2 Juli 2026. Ia juga mengatakan bahwa truk pengangkut sampah terus beroperasi hingga tengah malam, meski beberapa unit masih terbakar.

Latest Program: Kebakaran TPA Jatiwaringin Jadi Peringatan untuk Daerah Lain

Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi momen penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman ledakan dari sumber api yang tersembunyi. Kebakaran tersebut terjadi di tengah musim kemarau yang memicu tingkat kekeringan di daerah tersebut. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, TPA Jatiwaringin memiliki kapasitas pengolahan sampah sekitar 1.000 ton per hari. Kebakaran yang terjadi pada 3 Juli 2026 mengancam kestabilan lingkungan dan keberlanjutan operasional tempat tersebut.

Menurut Diaz, kebakaran di TPA Jatiwaringin bisa menjadi contoh bagus dalam penanganan bencana serupa di wilayah lain. “Dengan memahami risiko ledakan dan memperkuat sistem pemantauan, kita bisa mengurangi dampak bencana,” imbuhnya. Ia menyarankan penggunaan teknologi monitoring lebih intensif, terutama pada area dengan risiko konsentrasi gas metana tinggi. “Kita harus siap sebelum kejadian, bukan hanya merespons setelah terjadi,” tuturnya.

“Kebakaran di TPA Jatiwaringin menunjukkan bahwa kita perlu mengintegrasikan teknologi modern dengan upaya manual untuk memastikan respons yang cepat dan efektif,” kata Diaz.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin juga menarik perhatian warga sekitar yang mengkhawatirkan dampak kesehatan dari polusi udara. “Ledakan gas berbahaya bisa menyebabkan gangguan pernapasan dan bahkan keracunan,” kata seorang warga, Neni, yang tinggal di dekat lokasi. Ia menambahkan bahwa warga telah mengurangi aktivitas di sekitar TPA sebagai langkah pencegahan. Dengan Latest Program ini, KLH berharap bisa memberikan solusi yang lebih baik untuk menghadapi ancaman serupa di masa depan.

Gabung diskusi