Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Hiburan

Solving Problems: Bernadya Ungkap Makna Album ‘Semoga Hanya di Mimpi’

Mark Jones - tajukpublik.com 4 mins read 12 views

Bernadya Rilis Album Kedua 'Semoga Hanya di Mimpi' Solving Problems menjadi tema utama dalam perjalanan kreatif Bernadya yang terwujud dalam album kedua

Solving Problems: Bernadya Ungkap Makna Album ‘Semoga Hanya di Mimpi’

Bernadya Rilis Album Kedua ‘Semoga Hanya di Mimpi’

Solving Problems menjadi tema utama dalam perjalanan kreatif Bernadya yang terwujud dalam album kedua berjudul ‘Semoga Hanya di Mimpi’. Jakarta, 26 Juni 2026 – Artis yang dikenal dengan vokalnya yang emosional ini menjelaskan bahwa album ini adalah hasil dari proses pemecahan masalah pribadi dan berbagi pengalaman kehidupan yang penuh tantangan. Dalam konferensi pers di Jakarta, Bernadya mengungkap bahwa album ini bertujuan menyampaikan harapan agar ketakutan tidak terwujud dalam kenyataan, sekaligus menjadi sarana untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menghambat perjalanan seseorang. “Ini adalah upaya untuk menjawab berbagai pertanyaan dalam diri, termasuk bagaimana mengubah kecemasan menjadi motivasi,” katanya. Dengan latar belakang yang kuat, Bernadya berharap album ini bisa menjadi terapi bagi pendengar yang sedang melewati masa sulit.

Makna Judul dan Konsep Musik

Album ‘Semoga Hanya di Mimpi’ memiliki konsep yang sangat mendalam, dimana setiap lagu menjadi cermin dari keinginan bernadya untuk mengatasi ketakutan dan menyelesaikan masalah. “Jadi itu adalah harapanku, track-tracknya adalah isi ketakutanku yang aku harap itu cuma ada di mimpi. Mudah-mudahan nggak beneran,” ujarnya. Bernadya menjelaskan bahwa judul album ini diambil dari satu lagu utama yang menjadi simbol dari perjalanan musiknya. Selain itu, ia juga ingin mengeksplorasi genre yang lebih beragam sebagai bentuk penyelesaian masalah dari sudut pandang kreatif. Dengan pendekatan ini, Bernadya berharap bisa menghadirkan nuansa musik yang lebih menarik dan memberikan solusi emosional bagi pendengar.

Album ini menggambarkan kisah-kisah yang dibalut oleh harapan, dengan tujuan membuat pendengar merasakan bahwa ketakutan hanya menjadi bagian dari imajinasi. Dalam proses produksi, Bernadya menyadari bahwa musik bisa menjadi alat untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, baik secara personal maupun sosial. Ia menjelaskan bahwa lagu-lagu dalam album ini tidak hanya bercerita tentang perasaan, tetapi juga tentang perjuangan untuk mengatasi hambatan, mengubah mindset, dan meraih kehidupan yang lebih baik. “Musik ini adalah ekspresi dari apa yang aku rasakan, termasuk bagaimana mencari solusi untuk berbagai masalah yang mengganggu,” tutur Bernadya. Dengan demikian, ‘Semoga Hanya di Mimpi’ tidak hanya album, tetapi juga panduan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan.

Proses Kreatif dan Inspirasi dari Era 2000-an

Proses kreatif album ini berlangsung cukup panjang, karena Bernadya ingin memastikan setiap track menggambarkan cerita yang jelas dan terhubung dengan tema Solving Problems. Dalam kesempatan wawancara, ia mengatakan bahwa inspirasi visual album ini berasal dari era 2000-an, yang menurutnya memiliki nuansa khas yang mampu mengingatkan pendengar pada masa lalu yang penuh warna. “Cuman kita gak mau, sebenernya orang tuh ngerasain itu Jepang. Cuman kita aimnya (sasarannya) adalah 2000-an gitu warnanya, cuma entah kenapa warna itu bisa didapatnya disana,” katanya. Bernadya menjelaskan bahwa pemilihan nuansa ini adalah bentuk ekspresi dari keinginan untuk menggabungkan nostalgia dengan keharmonisan modern, sehingga menyelesaikan masalah keterbatasan dalam musik.

Dalam mengembangkan konsep visual, Bernadya bekerja sama dengan tim desain yang memberikan inspirasi dari kehidupan di era 2000-an. Hal ini tidak hanya terwujud dalam penampilan visual album, tetapi juga dalam struktur musik yang lebih dinamis. Ia menegaskan bahwa album ini merupakan transformasi dari pendekatan musik sebelumnya, karena ingin menghadirkan pengalaman baru bagi pendengar. “Solving Problems juga terwujud melalui perubahan gaya musik, dimana kita mencoba menciptakan alunan yang lebih mencerminkan perasaan dalam era yang berbeda,” tambahnya. Dengan begitu, Bernadya berharap album ini bisa menjadi solusi dari kecemasan, nostalgia, dan perubahan yang terus-menerus.

Bernadya juga menekankan bahwa album ini adalah bentuk komunikasi antara dirinya dan pendengar. Ia menjelaskan bahwa setiap lagu dirancang untuk menciptakan koneksi emosional, sehingga memudahkan pendengar mengungkapkan masalah yang mereka alami. Dalam beberapa track, ia menyisipkan lirik yang menggambarkan perjuangan untuk menyelesaikan masalah dalam hubungan, karier, dan kehidupan pribadi. “Lagu-lagu ini adalah cermin dari perjalanan kita, dan mereka membantu orang-orang menemukan solusi untuk kehidupan mereka,” ujarnya. Dengan menyelesaikan masalah melalui musik, Bernadya berharap bisa memberikan pesan yang menginspirasi dan memotivasi pendengar untuk tetap optimis, meski menghadapi tantangan.

Album ‘Semoga Hanya di Mimpi’ juga mencerminkan kolaborasi dengan banyak produser yang memiliki perspektif unik. Bernadya mengungkap bahwa bekerja sama dengan musisi dari berbagai genre membantu ia menyelesaikan masalah kreatif yang sempat menghambat proses produksi. “Setiap produser memberikan ide yang berbeda, dan itu membantu kita menemukan solusi untuk menciptakan karya yang lebih beragam,” katanya. Dengan begitu, album ini bukan hanya hasil dari pengalaman pribadi Bernadya, tetapi juga refleksi dari berbagai sudut pandang yang terbuka. Menyelesaikan masalah melalui kolaborasi menjadi salah satu alasan mengapa album ini memiliki nuansa yang lebih kaya dan mendalam.

Gabung diskusi